Sebanyak delapan orang tenggelam di sungai Parang Sikureng Kecamatan Matang Kuli Kabupaten Aceh Utara. Kedelapan korban tersebut diketahui tidak bisa berenang dan terus menerus meminta pertolongan.

Saat itu, hujan lebat mengguyur Kabupaten Aceh Utara dan sekitarnya, sehingga luapan sungai Krueng Keurto mengakibatkan arus sungai di desa tersebut sangat deras. Warga di sekitar lokasi tidak ada yang berani menolong.

Beberapa saat kemudian, sejumlah sukarelawan datang dengan membawa berbagai perlengkapan evakuasi seperti perahu karet dan lain sebagainya. Meskipun semua korban berhasil diselamatkan, namun naas satu korban ditemukan sudah tak bernyawa.

Di tempat lain, terdapat sejumlah wanita dan anak-anak yang terjebak banjir. Petugas TNI jajaran Korem 011/Lilawangsa bersama Polri, BPBD, PMI, Mahasiswa dan instansi lainnya melakukan upaya penyelamatan yang cukup dramatis di tengah kepungan derasnya arus sungai.

Setelah seluruh korban bencana alam tersebut berhasil diselamatkan, kemudian petugas mengevakuasi korban ke tempat yang aman untuk dilakukan penanganan secara medis.

Peristiwa bencana alam tersebut menjadi bagian dari rangkaian simulasi penanganan bencana alam yang diselenggarakan oleh Korem 011/Lilawangsa bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

Lokasi simulasi tersebut berlangsung di Desa Parang Sikureng Kecamatan Matang Kuli Kabupaten Aceh Utara, Jum'at (20/11).

Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Sumirating Baskoro diwakili Kasi Ops Mayor Inf Andri Sagita Putra mengatakan simulasi ini sebagai upaya menyiapkan kesiapsiagaan petugas dalam menghadapi bencana alam.

"Dalam simulasi ini melibatkan sekitar 300 personil gabungan dan untuk penyelenggaraan simulasi sekitar 110 orang. Kegiatan ini merupakan rangkaian akhir dari latihan penanganan bencana alam yang telah dijadwalkan selama lima hari,"katanya.

Dikatakannya, dipilihnya lokasi simulasi di Desa Parang Sikureng tersebut karena dari hasil pemetaan wilayah, terdapat beberapa desa di Kecamatan Matang Kuli yang kerap terjadi bencana alam banjir setiap tahunnya.

Menurutnya, kegiatan simulasi tersebut dilakukan sebagai bentuk upaya kesiapsiagaan setiap unsur terkait dalam menanggulangi bencana alam yang sewaktu-waktu terjadi, mengingat saat ini sudah memasuki musim penghujan dan cuaca ekstrem yang akhir-akhir ini melanda di seluruh wilayah Indonesia khususnya Aceh.

"Alhamdulillah pelaksanaan kegiatan simulasi penanganan bencana alam berjalan lancar, aman dan tanpa kendala berarti. Pelaksanaan dalam pemahaman teori yang telah disampaikan beberapa hari lalu mencapai 80 persen dan sudah dapat diaplikasikan di lapangan apabila terjadi bencana alam yang tidak kita harapkan,"katanya.

Meski ditengah pandemi COVID-19, upaya penanganan bencana alam tetap dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

 

Pewarta: Dedy Syahputra

Uploader : Salahuddin Wahid


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2020