Meulaboh,10/11 (Antaraaceh) - Panglima Laot (lembaga adat laut) menyatakan nelayan tradisional Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, sedikit keberatan rencana pemerintahan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) karena kehidupan ekonomi mereka masih memperihatinkan.
"Kami mewakil panglima laot sedikit banyaknya ada keberatan dinaikan BBM, karena kita lihat kehidupan nelayan Aceh masih susah dan rezeki tidak normal, kalaupun dinaikan harapan kami subsidi diberikan," kata Panglima Laot Aceh Barat Amiruddin di Meulaboh, Senin.
Amiruddin yang juga mewakili Himpunan Serikat Nelayan Indonesia (HSNI) Aceh Barat menuturkan, apabilapun kebijakan penyesuaian kenaikan harga BBM direalisasi pada awal 2015, maka nelayan mengharapkan subsidi untuk nelayan tidak dihapuskan.
Meskipun dampak kenaikan harga BBM subsidi, sedikit dialihkan untuk nelayan tetap saja tidak efektif menutupi kebutuhan, tapi paling tidak sedikit meringankan beban keluarga nelayan yang selama ini masih dikonotasikan rakyat miskin di Indonesia.
Sebut Amirudin, selama ini para nelayan sulit memperoleh BBM Solar setiap berangkat melaut, terlebih lagi kebutuhan boad berkapasitas diatas 40 GT harus menyediakan stok solar lebih besar karena melaut sampai 30 hari.
"Nelayan harus menyediakan stok solar sebanyak mungkin karena tidak bisa memperolehnya didaerah lain, meskipun membawa bekal uang akan tetapi tetap saja tidak mungkin menemukan tempat pembelian di laut," kata pria yang mewakili masyarakat Provinsi Aceh dalam telekonferensi bersama Jokowi-JK usai pelantikan kepala negara.
Lebih lanjut dikatakan, kesepakatan pemangku adat laot bersama HSNI menerima berapapun besaran kenaikan harga BBM dengan catatan masih diprioritas mendapat subsidi, akan tetapi apabila para nelayan tidak lagi diberi subsidi maka para nelayan menolak terhadap kenaikan BBM tersebut.
Berbeda dengan transportasi darat yang mudah mendapatkan tempat penjualan BBM dimanapun tanpa harus menyediakan stok, sementara para nelayan masih sangat terbatas tersedia tempat pengisian bahan bakar, konon lagi dilaut.
Karenanya para nelayan berharap sangat presiden Jokowi untuk tidak menaikan harga BBM karena para nelayan di Aceh umumnya belum siap menerima kebijakan tersebut, apalagi pendapatan mereka hanya cukup untuk satu hari makan.
"Kalau mobil itu sangat mudah bisa dapat pom bensin dimana-mana, kalau dilaut tidak ada pangkalan, kapal boad skala 10 GT keatas membutuhkan minyak 150-200 liter per hari, bayangkan kalau satu bulan perjalanan, berapa yang harus mereka bawa?," katanya menambahkan.

Pewarta:

Editor : Salahuddin Wahid


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2014