Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh akan mendata jumlah buaya muara di daerah aliran sungai (DAS) Aceh Tamiang yang populasinya dilaporkan semain banyak sehingga rawan terjadi konflik antara manusia dan hewan predator tersebut.

“Kita secepatnya melakukan riset khusus untuk buaya liar yang ada di muara sungai Aceh Tamiang. Bila memungkinkan akan dibuat penangkaran di sini (Aceh Tamiang),” kata Kepala BKSDA Provinsi Aceh Agus Aryanto di Aceh Tamiang, Sabtu.

Agus Aryanto menyampaikan hal itu sebagai respon atas usulan Camat Seruway M Hans Marta Kusuma meminta kepada BKSDA membuat penangkaran untuk menampung buaya yang saat ini penyebarannya sudah tingkat mengkhawatirkan.

Baca juga: Hati-hati buaya sungai Tamiang berkeliaran

“Buaya juga statusnya dilindungi, tapi juga tidak menutup peluang untuk dibuat penangkaran untuk satwa sesuai peraturan yang berlaku, itu bisa. Nanti akan kita diskusikan lebih lanjut,” ujar Agus.

Agus Aryanto datang ke Aceh Tamiang menghadiri peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2022 yang digelar oleh PT Pertamina EP Rantau Field di kawasan ekowisata Ujung Tamiang, Desa Pusong Kapal, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang.

Adapun rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang mengusung tema “Only One Earth” (hanya satu bumi) ini meliputi menanam pohon, pelepasan tukik Tuntong Laut dan membersihkan sampah disepanjang garis pantai ekowisata Ujung Tamiang.

Baca juga: Warga minta BKSDA evakuasi buaya pemangsa manusia

Sebelumnya Camat Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang Muhammad Hans Mata Kesuma mengusulkan kepada BKSDA Aceh untuk turun melakukan penelitian terhadap perkembangbiakan buaya muara yang populasinya kian hari terus bertambah. 

Pihaknya merasa khawatir akan banyak buaya berkeliaran suatu saat akan membahayakan masyarakat yang mendiami wilayah pinggiran sungai terutama muara Ujung Tamiang.

“Sudah saatnya pihak BKSDA memikirkan solusi untuk membuat penangkaran buaya liar tersebut. Jika dibiarkan tentu akan meresahkan dan mengancam kehidupan warga sekitar pinggiran sungai,” ucap M Hans.

Baca juga: Warga Aceh Selatan diserang buaya saat hendak memetik kangkung

“Saya harap ini juga menjadi pemikiran serius untuk sektor pariwisata kita. Jika buaya ditangkar sudah barang tentu akan menjadi destinasi waisata baru di Aceh Tamiang, selain ekowisata mangrove dan satwa Tuntong Laut,” sambung M Hans.

Manager Relation Regional 1 Pertamina Hulu Rokan (PHR) Yudi Nugraha menyambut baik wacana membangun penangkaran buaya di Aceh Tamiang. Ia menyarankan dalam program wisata sebaiknya harus up (naik ke atas).

Dia mencontohkan seperti wisata di Thailand, dalam satu perjalanan bisa mengunjungi berbagai penangkaran seperti buaya, lebah madu dan didalamnya ada empat sampai lima tempat wisata.

“Kalau seperti itu dikemas kemudian diekspose tentu akan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kalau ada dua atau tiga wisata yang dapat kita kunjungi seperti paket wisata lingkungan di sini yang bisa dilihat, sehingga sekali jalan dua tiga pulau terlampaui,” tuturnya.

Pewarta: Dede Harison

Editor : Heru Dwi Suryatmojo


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2022