Blangpidie (ANTARA Aceh) - Para petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Provinsi Aceh, lebih memilih menjual padi ke pedagang luar daerah, karena mereka mau menampung meskipun gabah masih basah.

Keujruen Blang (pemangku adat sawah) Abdul Manan di Blangpidie, Jumat menyatakan, pedagang lokal  tidak mau membeli gabah basah, sehingga banyak petani beralih menjual gabah ke pedagang luar daerah.

Menurut Abdul Manan, banyak para pedagang dari Sumatera Utara masuk ke daerahnya khusus untuk membeli gabah yang baru selesai dipanen dengan menggunakan mesin "combine harvester".

"Gabah basah siap dipanen dengan mesin combine harvester dibeli pedagang luar daerah dengan harga Rp4.100 per kilogram. Sementara gabah kering dibeli antara Rp4.400 sampai dengan Rp4.500 per kilogram," katanya.

Ia menerangkan, musim panen rendengan saat ini sedang berlangsung di daerahnya bertepatan pada musim hujan, sehingga proses pemanenan tidak lagi secara tradisional melainkan dengan mesin combine harvester milik pemerintah.

Proses pemanenan padi dengan combine harvester tersebut, selain memakan biaya murah, proses pemanenan menjadi lebih cepat ketimbang secara tradisional yang dimulai dari kegiatan potong, angkut, rontok, pembersihan dan pengantongan.

"Secara tradisonal memakan waktu lama, apalagi saat ini musim hujan cukup banyak yang harus dikerjakan petani. Tapi, kalau menggunakan combine harvester, petani tidak repot lagi, siap dipanen langsung timbang dapat uang," katanya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Pengilingan Padi dan Pegusaha Beras Indonesia (Perpadi) Abdya Darwis Nya¿ha saat ditanya mengakui bahwa saat ini petani di daerahnya sangat beruntung karena cukup banyak pedagang luar daerah datang menampung gabah basah dengan harga tinggi.

"Pedagang lokal tidak berani beli gabah basah siap panen karena di Abdya belum memiliki kilang padi standar nasional (rice milling unit), makanya, gabah baru panen masih basah dijual petani pada pedagang luar daerah," katanya.

Ketua Perpadi Abdya itu mengaku sangat terkejut dengan pernyataan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Abdya Maswadi bahwa Abdya telah memiliki 3 unit mesin penggilingan modern bantuan Dirjen PSP Kementerian Pertanian.

"Kalau menurut saya, Kadis Pertanian Abdya ini tidak paham tentang mesin penggilingan padi modern yang disebut RMU, karena kilang padi bantuan tersebut bukan standar nasional, akan tetapi mesin penggilingan biasa yang berukuran kecil. Mesin jenis itu sejak tahun 1990 sudah ada bukan standar nasional," katanya.

Ia menjelaskan, mesin penggilingan RMU berstandar nasional yang modern tersebut merupakan rangkaian beberapa unit mesin yang dirangkai menjadi satu dalam kesatuan unit dibantu dengan alat elevator dan poros tramisi sehingga tidak membutuhkan tenaga manusia saat proses produksi.

Pewarta: Pewarta : Suprian

Uploader : Salahuddin Wahid


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2016