Bank Indonesia (BI) mendorong Pemerintah Provinsi Aceh untuk ikut menerapkan dan melakukan pengembangan ekonomi hijau (green economy) dalam pembangunan Aceh yang berkelanjutan, sebagai upaya mengurangi risiko kerusakan lingkungan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh Rony Widijarto di Banda Aceh, Kamis, mengatakan ekonomi hijau merupakan gagasan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan sosial masyarakat, sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan secara signifikan.

“Dapat diartikan juga (ekonomi hijau) sebagai aktivitas perekonomian yang sedikit atau tidak menghasilkan emisi gas-gas rumah kaca terhadap lingkungan, hemat sumber daya alam, dan berkeadilan sosial,” ujarnya.

Baca juga: BI jadikan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sebagai kawasan digital

Pernyataan itu disampaikan Rony dalam laporan perekonomian Aceh, sebagai rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Aceh guna mendorong pertumbuhan ekonomi di provinsi berjulukan Tanah Rencong itu di masa akan datang.

Ia menilai, pengembangan ekonomi berbasis komoditi hijau itu mencakup penerapan praktik pertanian yang baik atau Good Agriculture Practices (GAP), sertifikasi komoditas pertanian, perkebunan, serta perikanan.

Kemudian juga melakukan pengembangan industri hilir dan usaha turunan, perbaikan rantai pasok dan rantai nilai, dukungan kemitraan dan permodalan, optimalisasi komoditas dengan indikasi geografis.

“Serta juga mendorong intervensi yang bersifat spesifik terhadap komoditas unggulan di Aceh seperti kopi, kelapa sawit, nilam, pala, dan karet,” ujarnya.

Apalagi, hingga triwulan III tahun 2023, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Aceh dari sisi lapangan usaha masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Kata Rony, ada tiga tiga lapangan usaha utama yang menjadi sumber perekonomian Aceh yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 27 persen, perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 15,48 persen, serta konstruksi sebesar 10,21 persen.

“Secara kumulatif, ketiga lapangan usaha tersebut memberikan kontribusi sebesar 52,68 persen terhadap struktur PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Provinsi Aceh,” ujarnya.

Baca juga: BI: PON Aceh 2024 jadi momentum akselerasi digitalisasi daerah

Pewarta: Khalis Surry

Editor : Febrianto Budi Anggoro


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2024