Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Pemerhati ekonomi dan social, T Sukandi, mengatakan dengan perkembangan kemajuan zaman saat ini, sudah sepantaskannya rakyat Aceh Selatan tidak lagi menggantungkan atau mengharapkan pasokan Sembilan Bahan Pokok (Sembako) dari Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Sebab, Kabupaten Aceh Selatan yang secara geografis berada disepanjang pesisir samudera hindia serta diapit oleh gunung yang menjulang tinggi serta berderetan, memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah.
Daerah yang dikenal sebagai penghasil Pala terbesar di Provinsi Aceh itu, selain memiliki wilayah perairan laut yang luas dengan beraneka ragam kandungan jenis ikan laut yang segar, juga memiliki hamparan lahan pertanian yang membentang luas dengan tingkat kesuburan sangat bagus.
Seluruh potensi SDA itu, jika dikelola dan dimanfaatkan secara tepat dan baik, maka dipastikan akan mampu meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat setempat sehingga rakyat Aceh Selatan akan berdaulat secara ekonomi karena tidak perlu lagi harus terkantung dengan pasokan sembako dari luar khususnya dari Sumatera Utara.
“Potensi SDA yang terkandung di daerah ini sangat menjanjikan, namun sayangnya hampir seluruh kebutuhan sembako, mesti dipasok dari luar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seperti beras, sayur-sayuran dan buah-buahan masih tergantung dari hasil produksi Petani di Sumatera Utara serta daerah lainnya. Miris kedengarannya, walaupun kabupaten Aceh Selatan memiliki lahan pertanian yang luas dan subur tetapi harus membeli beras dari luar daerah.
Begitu juga sayur-sayuran dan buah-buahan cenderung mengkomsumsi hasil tani tanah Karo (Brastagi) dan Tanah Karo (Simalungun). Termasuk gula pasir, daging Sapi/Ayam, minyak goreng dan Margarin (mentega), susu, telur, minyak tanah atau gas elpiji serta garam beryodium, kecuali ikan yang murni hasil tangkapan nelayan daerah ini,†kata T Sukandi di Tapaktuan, Sabtu (12/9).
Menurutnya, realita yang terjadi selama ini menjadi tantangan bagi Pemerintah daerah dan masyarakat Aceh Selatan sendiri. Bagaimana caranya seluruh lahan pertanian yang ada di Kabupaten Aceh Selatan bisa dimanfaatkan dengan baik.
“Persoalan tidak tergarap lahan pertanian ini jangan hanya disalahkan Petani saja, sebab ini bukan faktor malas bekerja, tetapi persoalannya karena Petani kurang memahami cara atau teknik bertani yang benar. Akibatnya, bantuan yang disalurkan Pemerintah tidak berhasil menunjang peningkatan perekonomian rakyat,†papar Sukandi.
Saat ini, sambung Sukandi, Pemerintah bekerjasama dengan TNI sedang berupaya menerapkan penanaman Padi serentak untuk menyukseskan program ketahanan pangan agar terwujud swasembada pangan ditanah air. Menyahuti program ini, leading sektor melalui dinas teknis harus proaktif memberi penyuluhan dan pembinaan kepada petani, sehingga program Pemerintah tidak gagal di tengah jalan, oleh karena itu semua pihak harus mendorong para petani untuk tidak membiarkan lahan tidur ditumbuhi ilalang.
“Sebanyak apapun bantuan dari Pemerintah jika kesadaran masyarakat tidak tumbuh serta pihak Pemerintah melalui dinas terkait tidak melakukan pengawasan dengan baik, maka keberhasilan yang diharapkan tetap tidak maksimal. Penyuluh pertanian harus membimbing kelompok tani dengan baik, jika sektor ini berhasil, ketergantungan pasokan beras dari luar daerah akan mampu diminimalisir bahkan ekonomi masyarakat bisa membaik. Petani lainpun akan memikul cangkul untuk menggarap lahan taninya,†ulasnya.
Harus diakui bahwa, kata dia, pertumbuhan home industry di Aceh Selatan nyaris tidak ada, sehingga bantuan yang dikucurkan pemerintah tidak dimanfaatkan dengan baik. Konteks ini menjadikan masyarakat terkesan menerima imbalan cuma-cuma tanpa mampu menghidupkan ekonomi produktif yang terus berkembang serta bisa menyerap tenaga kerja.
Pihaknya berharap, Pemerintah dan masyarakat harus mengintrospeksi diri dengan cara menyalurkan bantuan kepada pihak yang benar-benar membutuhkan dan bekerja dilapangan untuk menghindari bantuan yang disalurkan disalah gunakan, kemudian Pemerintah juga diminta menghidupkan home industry dan menggalakkan penanaman padi secara serentak. Hal itu untuk membangkitkan kondisi perekonomian masyarakat dari keterpurukan dengan cara terus menciptakan peluang lapangan kerja sehingga kebutuhan hidup terpenuhi dan pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan pun terus maju dan berkembang.
“Contohnya, jangan biarkan ikan asin dipasok dari luar daerah karena Aceh Selatan memiliki sumber daya yang melimpah ruah. Sayur-sayuran dan buah-buahan tidak lagi diangkut dari Sumetera Utara. Sebab lahan pertanian di Kabupaten Aceh Selatan sangat subur dan menjanjikan kemakmuran jika petani giat mengolah tanah,†pungkas T Sukandi.
Sebab, Kabupaten Aceh Selatan yang secara geografis berada disepanjang pesisir samudera hindia serta diapit oleh gunung yang menjulang tinggi serta berderetan, memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah.
Daerah yang dikenal sebagai penghasil Pala terbesar di Provinsi Aceh itu, selain memiliki wilayah perairan laut yang luas dengan beraneka ragam kandungan jenis ikan laut yang segar, juga memiliki hamparan lahan pertanian yang membentang luas dengan tingkat kesuburan sangat bagus.
Seluruh potensi SDA itu, jika dikelola dan dimanfaatkan secara tepat dan baik, maka dipastikan akan mampu meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat setempat sehingga rakyat Aceh Selatan akan berdaulat secara ekonomi karena tidak perlu lagi harus terkantung dengan pasokan sembako dari luar khususnya dari Sumatera Utara.
“Potensi SDA yang terkandung di daerah ini sangat menjanjikan, namun sayangnya hampir seluruh kebutuhan sembako, mesti dipasok dari luar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seperti beras, sayur-sayuran dan buah-buahan masih tergantung dari hasil produksi Petani di Sumatera Utara serta daerah lainnya. Miris kedengarannya, walaupun kabupaten Aceh Selatan memiliki lahan pertanian yang luas dan subur tetapi harus membeli beras dari luar daerah.
Begitu juga sayur-sayuran dan buah-buahan cenderung mengkomsumsi hasil tani tanah Karo (Brastagi) dan Tanah Karo (Simalungun). Termasuk gula pasir, daging Sapi/Ayam, minyak goreng dan Margarin (mentega), susu, telur, minyak tanah atau gas elpiji serta garam beryodium, kecuali ikan yang murni hasil tangkapan nelayan daerah ini,†kata T Sukandi di Tapaktuan, Sabtu (12/9).
Menurutnya, realita yang terjadi selama ini menjadi tantangan bagi Pemerintah daerah dan masyarakat Aceh Selatan sendiri. Bagaimana caranya seluruh lahan pertanian yang ada di Kabupaten Aceh Selatan bisa dimanfaatkan dengan baik.
“Persoalan tidak tergarap lahan pertanian ini jangan hanya disalahkan Petani saja, sebab ini bukan faktor malas bekerja, tetapi persoalannya karena Petani kurang memahami cara atau teknik bertani yang benar. Akibatnya, bantuan yang disalurkan Pemerintah tidak berhasil menunjang peningkatan perekonomian rakyat,†papar Sukandi.
Saat ini, sambung Sukandi, Pemerintah bekerjasama dengan TNI sedang berupaya menerapkan penanaman Padi serentak untuk menyukseskan program ketahanan pangan agar terwujud swasembada pangan ditanah air. Menyahuti program ini, leading sektor melalui dinas teknis harus proaktif memberi penyuluhan dan pembinaan kepada petani, sehingga program Pemerintah tidak gagal di tengah jalan, oleh karena itu semua pihak harus mendorong para petani untuk tidak membiarkan lahan tidur ditumbuhi ilalang.
“Sebanyak apapun bantuan dari Pemerintah jika kesadaran masyarakat tidak tumbuh serta pihak Pemerintah melalui dinas terkait tidak melakukan pengawasan dengan baik, maka keberhasilan yang diharapkan tetap tidak maksimal. Penyuluh pertanian harus membimbing kelompok tani dengan baik, jika sektor ini berhasil, ketergantungan pasokan beras dari luar daerah akan mampu diminimalisir bahkan ekonomi masyarakat bisa membaik. Petani lainpun akan memikul cangkul untuk menggarap lahan taninya,†ulasnya.
Harus diakui bahwa, kata dia, pertumbuhan home industry di Aceh Selatan nyaris tidak ada, sehingga bantuan yang dikucurkan pemerintah tidak dimanfaatkan dengan baik. Konteks ini menjadikan masyarakat terkesan menerima imbalan cuma-cuma tanpa mampu menghidupkan ekonomi produktif yang terus berkembang serta bisa menyerap tenaga kerja.
Pihaknya berharap, Pemerintah dan masyarakat harus mengintrospeksi diri dengan cara menyalurkan bantuan kepada pihak yang benar-benar membutuhkan dan bekerja dilapangan untuk menghindari bantuan yang disalurkan disalah gunakan, kemudian Pemerintah juga diminta menghidupkan home industry dan menggalakkan penanaman padi secara serentak. Hal itu untuk membangkitkan kondisi perekonomian masyarakat dari keterpurukan dengan cara terus menciptakan peluang lapangan kerja sehingga kebutuhan hidup terpenuhi dan pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan pun terus maju dan berkembang.
“Contohnya, jangan biarkan ikan asin dipasok dari luar daerah karena Aceh Selatan memiliki sumber daya yang melimpah ruah. Sayur-sayuran dan buah-buahan tidak lagi diangkut dari Sumetera Utara. Sebab lahan pertanian di Kabupaten Aceh Selatan sangat subur dan menjanjikan kemakmuran jika petani giat mengolah tanah,†pungkas T Sukandi.
Pewarta: Pewarta : HendrikUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.