Banda Aceh (ANTARA Aceh) - Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh menuntut pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) yang berlangsung di provinsi itu berjalan damai.
Tuntutan mahasiswa tersebut disampaikan dalam unjuk rasa di Gedung DPR Aceh di Banda Aceh, Senin. Unjuk rasa tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam unjuk rasa tersebut, para mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan "Kawal Pilkada Aceh 2017". Unjuk rasa tersebut dijaga ketat belasan polisi.
Heri Safrizal, orator aksi dalam orasinya, mengajak masyarakat mengawal pelaksanaan pilkada Aceh. Serta melawan pihak-pihak yang ingin mengganggu pesta demokrasi lima tahunan tersebut.
"Kawal pilkada Aceh. Jangan sampai pilkada diwarnai intimidasi, kekerasan hingga pembunuhan. Masyarakat tidak tenang kalau diintimidasi terus," ungkap Heri Safrizal yang disambut yel-yel pengunjuk rasa.
Selain itu, kata dia, mahasiswa mengajak masyarakat memilih pemimpin yang membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Jangan pilih pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok.
"Anggaran Aceh triliun. Namun, itu tidak mampu menyejahterakan rakyat. Hal ini terjadi karena pemimpin tidak memperjuangkan dan membela rakyat," kata Heri Safrizal.
Kehadiran massa mahasiswa tersebut disambut Wakil Ketua Komisi I DPR Aceh Azhari Cage. Namun, para mahasiswa sempat menolak kehadiran politisi Partai Aceh itu.
Massa mahasiswa mendesak Ketua DPR Aceh ataupun unsur pimpinan dewan lainnya menjumpai mereka. Mereka hanya ingin menyampaikan aspirasi kepada pimpinan dewan.
"Pimpinan dewan sedang rapat semuanya. Dan Ketua DPR Aceh meminta kepada saya agar menjumpai mahasiswa. Maka, saya kemari menjumpai kalian," kata dia.
Azhari Cage menegaskan, DPR Aceh tidak tinggal diam dan terus mengawasa proses pilkada. Buktinya, DPR Aceh memanggil sejumlah kepala dinas yang diduga ikut berpolitik.
"Komisi I DPR Aceh memanggil sejumlah kepada dinas yang diduga ikut kampanye pencalonan kembali Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Dan kami ingatkan kepala dinas dan PNS harus netral pada pilkada 2017," kata Azhari Cage.
Usai menyampaikan aspirasi dan mendengarkan penjelasan anggota DPR Aceh tersebut, massa mahasiswa akhirnya membubarkan diri secara tertib dengan pengawal ketat aparat kepolisian.
Tuntutan mahasiswa tersebut disampaikan dalam unjuk rasa di Gedung DPR Aceh di Banda Aceh, Senin. Unjuk rasa tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam unjuk rasa tersebut, para mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan "Kawal Pilkada Aceh 2017". Unjuk rasa tersebut dijaga ketat belasan polisi.
Heri Safrizal, orator aksi dalam orasinya, mengajak masyarakat mengawal pelaksanaan pilkada Aceh. Serta melawan pihak-pihak yang ingin mengganggu pesta demokrasi lima tahunan tersebut.
"Kawal pilkada Aceh. Jangan sampai pilkada diwarnai intimidasi, kekerasan hingga pembunuhan. Masyarakat tidak tenang kalau diintimidasi terus," ungkap Heri Safrizal yang disambut yel-yel pengunjuk rasa.
Selain itu, kata dia, mahasiswa mengajak masyarakat memilih pemimpin yang membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Jangan pilih pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok.
"Anggaran Aceh triliun. Namun, itu tidak mampu menyejahterakan rakyat. Hal ini terjadi karena pemimpin tidak memperjuangkan dan membela rakyat," kata Heri Safrizal.
Kehadiran massa mahasiswa tersebut disambut Wakil Ketua Komisi I DPR Aceh Azhari Cage. Namun, para mahasiswa sempat menolak kehadiran politisi Partai Aceh itu.
Massa mahasiswa mendesak Ketua DPR Aceh ataupun unsur pimpinan dewan lainnya menjumpai mereka. Mereka hanya ingin menyampaikan aspirasi kepada pimpinan dewan.
"Pimpinan dewan sedang rapat semuanya. Dan Ketua DPR Aceh meminta kepada saya agar menjumpai mahasiswa. Maka, saya kemari menjumpai kalian," kata dia.
Azhari Cage menegaskan, DPR Aceh tidak tinggal diam dan terus mengawasa proses pilkada. Buktinya, DPR Aceh memanggil sejumlah kepala dinas yang diduga ikut berpolitik.
"Komisi I DPR Aceh memanggil sejumlah kepada dinas yang diduga ikut kampanye pencalonan kembali Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Dan kami ingatkan kepala dinas dan PNS harus netral pada pilkada 2017," kata Azhari Cage.
Usai menyampaikan aspirasi dan mendengarkan penjelasan anggota DPR Aceh tersebut, massa mahasiswa akhirnya membubarkan diri secara tertib dengan pengawal ketat aparat kepolisian.
Pewarta: Pewarta : M Haris SA: Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.