Kiev (ANTARA Aceh) - Perdana Menteri Ukraina Arseny Yatseniuk menyampaikan pengunduran dirinya melalui siaran televisi, Minggu, dan menyiratkan dukungan bagi ketua parlemen Volodymyr Groysman untuk mengambil alih jabatannya.
Yatseniuk selama ini menahan tekanan untuk mundur sejak ia lolos dari mosi tidak percaya yang dihadapi pemerintahannya pada Februari.
Sementara itu, krisis politik di Ukraina telah memecah belah koalisi berkuasa dan lebih lanjut menunda pencairan dana bantuan senilai 17,5 miliar dolar AS (Rp229,3 triliun) di bawah program intervensi oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
"Saya telah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sebagai perdana menteri Ukraina. Pada Selasa, 12 April, permohonan (pengunduran diri, red) saya ini akan diserahkan kepada parlemen," kata Yatseniuk pada siaran televisi.
"Krisis politik di negara ini di terjadi karena buatan. Keinginan untuk mengganti satu orang telah membutakan para politisi dan melumpuhkan tekad mereka untuk melakukan perubahan sebenarnya. Proses mengganti pemerintahan telah berubah menjadi upaya yang tidak ada artinya, berlari di tempat," katanya.
Faksi pimpinan Presiden Petro Poroshenko (BPP) dan partai pimpinan Yatseniuk, Front Rakyat, diperkirakan akan mengumumkan formasi koalisi baru pada pekan depan.
Saat menyampaikan pidato, Yatseniuk mengatakan partainya bertekad untuk memajukan koalisi. Ia juga menyiratkan keinginan untuk menyerahkan pemerintahan kepada Groysman.
"Kita tidak bisa membiarkan ketidakstabilan pada lembaga eksekutif terjadi dalam sebuah peperangan. Kalau setelah pengunduran diri ini pemerintahan Ukraina tidak segera terpilih, (ketidakstabilan, red) kemungkinan tidak dapat dielakkan," ujarnya.
Ia mengatakan bahwa faksi pimpinan Petro Poroshenko telah mencalonkan Volodymyr Groysman untuk menduduki jabatan Perdana Menteri.
"Setelah melakukan segalanya untuk memastikan bahwa stabilitas dan jalur kita terjaga, saya menyatakan keputusan untuk mengalihkan tugas-tugas dan kewajiban saya sebagai kepala pemerintahan Ukraina," katanya.
(Uu.T008)
Yatseniuk selama ini menahan tekanan untuk mundur sejak ia lolos dari mosi tidak percaya yang dihadapi pemerintahannya pada Februari.
Sementara itu, krisis politik di Ukraina telah memecah belah koalisi berkuasa dan lebih lanjut menunda pencairan dana bantuan senilai 17,5 miliar dolar AS (Rp229,3 triliun) di bawah program intervensi oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
"Saya telah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sebagai perdana menteri Ukraina. Pada Selasa, 12 April, permohonan (pengunduran diri, red) saya ini akan diserahkan kepada parlemen," kata Yatseniuk pada siaran televisi.
"Krisis politik di negara ini di terjadi karena buatan. Keinginan untuk mengganti satu orang telah membutakan para politisi dan melumpuhkan tekad mereka untuk melakukan perubahan sebenarnya. Proses mengganti pemerintahan telah berubah menjadi upaya yang tidak ada artinya, berlari di tempat," katanya.
Faksi pimpinan Presiden Petro Poroshenko (BPP) dan partai pimpinan Yatseniuk, Front Rakyat, diperkirakan akan mengumumkan formasi koalisi baru pada pekan depan.
Saat menyampaikan pidato, Yatseniuk mengatakan partainya bertekad untuk memajukan koalisi. Ia juga menyiratkan keinginan untuk menyerahkan pemerintahan kepada Groysman.
"Kita tidak bisa membiarkan ketidakstabilan pada lembaga eksekutif terjadi dalam sebuah peperangan. Kalau setelah pengunduran diri ini pemerintahan Ukraina tidak segera terpilih, (ketidakstabilan, red) kemungkinan tidak dapat dielakkan," ujarnya.
Ia mengatakan bahwa faksi pimpinan Petro Poroshenko telah mencalonkan Volodymyr Groysman untuk menduduki jabatan Perdana Menteri.
"Setelah melakukan segalanya untuk memastikan bahwa stabilitas dan jalur kita terjaga, saya menyatakan keputusan untuk mengalihkan tugas-tugas dan kewajiban saya sebagai kepala pemerintahan Ukraina," katanya.
(Uu.T008)
Uploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.