Sabang (ANTARA Aceh) - Tim Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana BPBD Kota Sabang, Aceh membersihkan jalur menuju kawasan wisata Pantai Sumur Tiga Ie Meulee, Sabang, Selasa.
Pembersihan jalur menuju objek wisata Pantai Sumur Tiga Ie Meulee, Sabang tersebut dilakukan karena tertutupi longsor sekitar empat meter akibat guyuran hujan dengan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah itu pada Rabu (4/1).
Kepala BPBD Kota Sabang T Zakaria di lokasi menyatakan, akibat guyuran hujan lebat, Rabu (4/1), jalur menuju objek wisata tersebut tidak bisa dilintasi karena tertutup bebatuan karang reruntuhan longsor.
"Anak tangga jalur kawasan wisata Pantai Sumur Tiga ini tertutup longsor bebatuan karang akibat guyuran hujan dan sekarang sudah dibersihkan," katanya usai pembersihan.
Pembersihan jalur wisata yang panjangnya sekitar 30 meter yang berjumlah sekira 60 anak tangga, juga turut serta dibantu Forum Komunitas Hujau (FKH) Teurawah, Sabang.
"Tadi wisatawan yang ingin ke pantai terpaksa lewat jalur alternatif rumah warga, dan sekarang sudah bisa dilintasi," ujar Aci, anggota FKH Teurawah.
Pulau paling ujung barat Indonesia yang letaknya berbukitan, ketika guyuran hujan dengan intensitas sedang hingga lebat beberapa titik curam sering terjadi longsor.
Ketika guyuran hujan sedang hingga lebat longsor sering melanda daerah kepulauan ini, seperti Tanjakan Cot Murong menuju kawasan wisata Pantai Gapang, Iboih serta Tugu Kilometer Nol Indonesia.
Longsor juga terjadi di jalan Balohan menuju kawasan wisata Pantai Anoi Itam, Benteng Jepang serta menuju kawasan wisata Pantai Sumur Tiga Ie Meulee, Sabang.
Salah satu warga di Pantai Sumur Tiga Sabang berharap, Pemerintah Kota Sabang serius menjaga kelestarian hutan dan tidak melakukan pembangunan di jalur yang dianggap rawan longsor itu.
"Pada daerah kepulauan jika pembangunan jalan tidak disesuaikan dengan topografi wilayah dikhawatirkan rawan terjadi longsor," ujarnya pula.
Ia kembali berharap, setiap ada pembukaan jalan dikomunikasikan dengan pihak terkait dalam hal ini Badan Lingkungam Hidup (BLH), agar pembangunan sesuai dengan karakter tanah maupun topografi wilayah setempat.
Pewarta: Irman YusufUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.