Tapaktuan, 17/12 (Antaraaceh) - Bendahara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Selatan, Hayatun Maira (34),  menjadi korban hipnotis orang tak dikenal seusai mengisi bahan bakar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tapaktuan, Rabu.
Informasi menghilangnya korban tersebut sangat cepat menyebar dan sempat menimbulkan informasi simpang siur di kalangan masyarakat Tapaktuan, sebab ada yang menyebut korban diculik lalu dibawa ke gunung.
Hal itu karena di saat korban sedang dalam perjalanan mengendarai sepeda ke Bakongan sempat mengangkat telepon dari rekan kerjanya di Kantor BPBD yang menanyakan dimana posisinya dan dia menjawab sedang berada di gunung.
Menurut keterangan korban saat membuat pengaduan di Mapolres Aceh Selatan, sekira pukul 16.00 WIB, kejadian itu bermula dari tindakan pelaku yang mengendarai sepeda motor besar itu, menepuk bahu korban sembari mengatakan “sudah selesai isi minyak kak?”.
Kemudian saat itu juga korban merasa tidak sadarkan diri lagi dan dengan terpaksa mengikuti perintah pelaku yang mengikuti atau membuntutinya dari belakang.
Dibawah alam tidak sadar itu, korban yang mengendarai sepeda motor dibawa oleh pelaku sampai ke Bakongan arah timur Kota Tapaktuan yang berjarak sekitar 50 Km.
Sampai di Bakongan tiba-tiba pelaku memerintahkan korban berhenti. Kemudian pelaku dengan ciri-ciri badan tegap dan kulit hitam itu, merampas tas korban dan menyita uang pecahan sebesar Rp200.000.
Merasa tidak puas karena uang yang ada hanya sedikit, kemudian pelaku menyita sepeda motor korban, namun beruntung upaya perampasan sepeda motor itu dapat digagalkan oleh warga yang kebetulan sedang melintas di jalan raya lintasan Bakongan – Medan, Sumatra Utara.
“Setelah di tepuk bahu saya itu, saya langsung seperti orang linglung antara sadar dan tidak. Saya terus saja mengendarai sepeda motor sesuai perintah pelaku, kemudian setelah sadar baru saya terkejut karena tiba-tiba sudah sampai ke Bakongan, padahal selama hidup saya tidak pernah mengendarai sepeda motor sendiri ke Bakongan,” ujar Hayatun.
Dia mengungkapkan, selama dalam perjalanan, sesampai di kawasan Gunung Lhok Reukam Tapaktuan sempat ditelepon rekan kerja di kantornya menanyakan dimana posisi?, lalu dia jawab sedang di gunung.
“Saat berada di Gunung Tapaktuan, perasaan saya seperti ada mengangkat telepon dan mengatakan bahwa sedang berada di gunung. Sebenarnya selama dalam perjalanan itu ada beberapa kali ingin mengangkat telepon tapi seperti ada yang menghalangi di saat sepeda motor pelaku memepet sepeda motor saya,” sebutnya.
Kemudian, kata korban, selama perjalanan ke Bakongan itu, dirinya juga seperti ada keinginan untuk berhenti dan berteriak namun tindakan itu tidak bisa dia lakukan karena seperti ada yang menghalangi dan nampak wajah-wajah orang di sepanjang jalan itu seram-seram sehingga timbul perasaan takut baginya.
Di samping itu, sepanjang perjalanan itu dirinya juga terasa seperti ada diperintah berhenti beberapa kali namun karena ramai orang yang sedang melintas di jalan karena hati itu bertepatan sedang berlangsung hari tulak bala sehingga orang-orang ramai melintas di jalan raya, tindakan itu dibatalkan oleh pelaku, sampai akhirnya sampai di Bakongan baru diperintah berhenti.
”Pertama tas saya dirampas lalu di sita uang pecehan Rp200.000. Pelaku sempat kesal karena uang yang ada sedikit. Kemudian dirampas sepeda motor, saat perampasan sepeda motor itu perasaan saya antara sadar dan tidak, saya sempat menarik sepeda motor saat itulah kebetulan lewat mobil.
Penumpang dalam mobil itu menanyakan ada apa ? mungkin karena pelaku mengira penumpang dalam mobil tersebut mengenal saya lalu pelaku langsung pergi, ungkap Hayatun.
Setelah sadarkan diri, dia langsung menghubungi adiknya anggota DPRK Aceh Selatan, Hadi Surya STP yang saat itu juga langsung menjemput korban ke Bakongan.
Hadi Surya mengatakan, pelaku hipnotis tersebut diperkirakan jaringan lama yang sudah sering bereaksi di Kabupaten Aceh Selatan. Sebab, sebelumnya tindakan hipnotis yang di perkirakan juga dilakukan oleh pelaku yang sama karena ciri-ciri pelaku sama persis juga telah menimpa salah seorang warga Kecamatan Kluet Selatan dengan cara mendatangi langsung rumah korban meminta kunci sepeda motor dan langsung membawa kabur.
“Artinya bahwa, kejadian hipnotis ini bukan ini kali pertama terjadi tapi sudah berulang kali dan telah memakan korban di Aceh Selatan. Saya prediksi komplotan ini adalah jaringan lama yang sudah sangat bergentayangan serta sangat meresahkan masyarakat,” ungkap Politisi Partai Gerindra ini.
Karena itu, kata Hadi, pihaknya meminta kepada aparat Polres Aceh Selatan agar segera mengungkap dan menangkap pelaku hipnotis tersebut, agar kejadian serupa tidak menimpa atau menimbulkan korban lagi warga Aceh Selatan.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Aceh Selatan, Iptu Darmawanto mengaku bahwa telah menerima laporan terkait kejadian hipnotis yang menimpa Bendahara BPBD Aceh Selatan sebagai korbannya.
"Kita sudah arahkan korban untuk membuat laporan dan korban selaku saksi korban akan kita BAP, untuk kita tanyakan ciri-ciri pelaku guna pengembangan dan pengungkapan kasus tindak kriminal tersebut,” ujar Darmawanto.

Pewarta:

Editor : Antara Aceh


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2014