Badan Pusat Statistik (BPS) Banda Aceh menyatakan persentase penduduk miskin di ibu kota provinsi Aceh mengalami penurunan dari 2022 sebesar 7,13 persen menjadi 7,04 persen.

"Persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya, kecuali pada 2021 di mana perekonomian sedang dalam masa pemulihan pasca pandemi," kata Kepala BPS Banda Aceh Mughlisuddin, di Banda Aceh, Jumat.

Mughlis menyampaikan, persentase penduduk miskin di Banda Aceh dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan penurunan yaitu sejak 2013 yang pernah mencapai 8,03 persen. 

"Penduduk miskin ini adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan," ujarnya.

Secara berturut-turut dalam satu dekade, tingkat penduduk miskin di Kota Banda Aceh yakni 8,03 persen pada 2013, 7,78 persen pada 2014, 7,72 persen pada 2015, 7,41 persen pada 2016, 7,44 persen pada 2017, 7,25 persen pada 2018, 7,22 persen pada 2019.

Lalu, sempat turun drastis sebesar 6,90 persen pada 2020. Meningkat lagi angkanya sebesar 7,61 pada 2021, tetapi berhasil turun sebesar 7,13 pada 2022, angkanya semakin turun 7,04 persen pada 2023.

Sementara itu, untuk garis kemiskinan di Banda Aceh setiap tahun mengalami kenaikan. Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, garis kemiskinan meningkat dari Rp495.558 menjadi Rp814.530 pada 2023.

"Nilai ini menunjukkan pendapatan minimum per kapita per bulan yang harus dicapai penduduk untuk dapat hidup," katanya.

Dirinya menjelaskan, meningkatnya garis kemiskinan tersebut disebabkan karena inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa seiring pertambahan tahun. 

"Untuk memperoleh standar hidup yang layak, maka daya beli masyarakat diusahakan untuk tidak menurun. Agar daya beli masyarakat tidak turun, maka pendapatan harus naik sehingga garis kemiskinan juga naik," demikian Mughlisuddin.

Baca juga: Akademisi USK apresiasi keberhasilan Aceh turunkan jumlah penduduk miskin

Pewarta: Nurul Hasanah

Editor : Febrianto Budi Anggoro


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2023