Banjir yang terjadi di Gampong Iku Lhung, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) telah menyebabkan sekitar 50 hektare lahan sawah yang ditanami padi siap panen rusak parah karena terendam air selama beberapa hari.

Keujrun Blang Gampong Iku Lhung, Jamhir di Blangpidie, Kamis, mengatakan bahwa masalah banjir tersebut bukan hal baru bagi mereka. Sejak tahun lalu, pihaknya telah menyampaikan masalah ini kepada pemerintah, namun belum ada tindakan yang diambil.

“Kami sudah berulang kali mengeluh kepada bapak Pj Bupati Abdya, tapi tidak ada tanggapan. Padahal, kami sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah untuk mengatasi banjir ini,” kata Jamhir.

Ia menjelaskan bahwa penyebab banjir di daerah itu karena adanya empat aliran sungai yang berdekatan dengan kawasan persawahan. Sungai-sungai tersebut sering meluap saat musim hujan, dan tidak ada tebing pemisah yang bisa mencegah air masuk ke areal sawah.

“Solusinya adalah dengan mengeruk sungai dan membangun tebing pemisah sepanjang 17 meter. Dengan begitu, air tidak akan lagi menggenangi sawah kami,” katanya.

Jamhir berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah ini. Ia khawatir jika banjir terus berulang, para petani di gampong itu akan bangkrut dan tidak bisa lagi bercocok tanam padi. 

“Kami hidup dari hasil bertani. Jika sawah kami rusak, kami tidak punya penghasilan lain. Kami mohon pemerintah jangan biarkan kami menderita seperti ini,” ujarnya.

Adapun banjir di Gampong Iku Lhung bukan hanya merugikan para petani, tetapi juga warga sekitar. Beberapa rumah warga juga sering terendam air, sehingga mereka harus mengungsi ke tempat aman.

Baca juga: Majelis hakim tolak eksepsi terdakwa korupsi RSUDYA

Pewarta: Suprian

Editor : Febrianto Budi Anggoro


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2024