Bea Cukai Lhokseumawe, Provinsi Aceh, siap mengawal produk industri pengolahan tembakau lokal di wilayah kerjanya mampu menembus pasal nasional.
Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai dan Dukungan Teknis (PKCDT) Kantor Bea Cukai Lhokseumawe Sofyan di Aceh Tengah, Kamis, mengatakan pengawalan tersebut untuk mendorong pertumbuhan industri hasil tembakau legal melalui dukungan terhadap pelaku usaha lokal.
"Kami menegaskan komitmen Bea Cukai Lhokseumawe mengawal produk hasil industri pengolahan tembakau lokal mampu menembus pasal nasional," katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Sofyan ketika menghadiri pelekatan pita cukai sigaret putih tangan sekaligus pelepasan produk menuju pasar lokal Aceh dan nasional.
Produk sigaret putih tangan yang dilepas ke pasar merupakan hasil produksi Gayo Mountain Cigar (GMC) dengan merek GMT. GMC merupakan pelaku usaha pengolahan tembakau lokal dipimpin Salmy Lahmuddin.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah Mursyid serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Aceh Tengah.
Sofyan mengatakan kehadiran Bea Cukai dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha dalam menciptakan ekosistem industri yang legal, sehat, dan berdaya saing.
"Pelekatan pita cukai bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga simbol legalitas dan kepatuhan. Kami di Bea Cukai berkomitmen untuk terus mendampingi pelaku usaha agar produknya mampu bersaing, tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga nasional," katanya.
Sofyan mengatakan Bea Cukai memiliki peran strategis dalam memberikan asistensi, mulai dari perizinan, pemenuhan ketentuan cukai, hingga fasilitasi pengembangan usaha, khususnya bagi industri kecil dan menengah di daerah.
Sementara itu, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga mengatakan pemerintah daerah menempatkan pengembangan industri tembakau sebagai bagian dari strategi ekonomi kerakyatan.
"Kami mendorong instansi terkait untuk serius mengembangkan budi daya tanaman tembakau sebagai komoditas unggulan daerah. Dan ini adalah peluang nyata untuk menumbuhkan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan," katanya.
Bupati menyambut lahirnya produk sigaret putih tangan dari Gayo Mountain Tobacco sebagai momentum penting bagi daerah, tidak hanya dari sisi industri, tetapi juga kontribusi terhadap pendapatan daerah.
"Produk hasil pengolahan tembakau ini berpotensi menjadi penyumbang pendapatan asli daerah melalui skema dana bagi hasil cukai hasil tembakau atau DBHCHT," kata Haili Yoga.
Oleh karena itu, Bupati meminta semua satuan kerja perangkat daerah bersinergi membantu petani tembakau agar hasil produksinya dapat terserap oleh industri.
"Keterhubungan antara sektor hulu atau petani dan hilir atau industri menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berdaya saing," kata Haili Yoga.
Salmy Lahmuddin, pemilik usaha tembakau Gayo Mountain Cigar, mengatakan peluncuran produk sigaret putih tangan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan Bea Cukai.
"Kami ingin menjadi bagian dari rantai nilai yang tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memberdayakan petani lokal. Harapannya, hasil tembakau dari petani Aceh Tengah dapat terserap secara optimal oleh industri kami," kata Salmy Lahmudin.
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2026