Takengon (Antaranews Aceh) - Tokoh masyarakat Gayo, Zam Zam Mubarak menegaskan, tarian kolosal dari Aceh yang ditampilkan pada seremoni pembukaan Asian Games bukan Saman, seperti yang banyak diberitakan media nasional.

"Tarian kolosal saat pembukaan kini menjadi sorotan di tengah masyarakat Gayo yang merasa perlu mengklarifikasi bahwa tarian tersebut bukan Saman, karena tarian ini memiliki ciri khas tersendiri yang tidak boleh dirubah," kata Direktur Linge Institut, Zam Zam Mubarak kepada wartawan di Takengon, Minggu.

Karena itu, menurutnya, tarian Aceh yang ditampilkan pada acara pembukaan Asian Games tidaklah disebut sebagai tari Saman untuk tetap menjaga keaslian dan jati diri Saman sebenarnya, karena tari tradisi asal Gayo tersebut telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui UNESCO.

"Media-media nasional menyebutnya tari Saman. Ini harusnya tidak terjadi, karena dapat mengaburkan jati diri Saman itu sendiri. Kalau Saman harus memakai bahasa Gayo dan tidak boleh ditarikan oleh perempuan," tutur Zam Zam Mubarak.

Zam Zam sendiri memahami bahwa tari kolosal pada pembukaan Asain Games tersebut adalah merupakan tari kreasi atau tari garapan yang pondasi dasarnya terinspirasi dari Saman.

Dia menyayangkan informasi tersebut tidak tersampaikan dengan baik kepada publik melalui media massa yang memberitakan parhelatan akbar tersebut.

"Tetap tidak boleh menyebutnya Saman. Pemerintah Pusat saya rasa wajib mengklarifikasi bahwa tarian tersebut bukan tarian Saman," kata Zam Zam.

Dia menjelaskan bahwa beberapa hal yang tak boleh diubah dalam tari Saman sebagai jati diri dari tari tradisi tersebut diantaranya adalah Saman ditarikan oleh lelaki, jumlah pernari harus bilangan ganjil, Saman dipimpin oleh seorang syech yang duduk ditengah formasi penari, Saman melantunkan syair dalam bahasa Gayo, Saman tidak diiringi musik apapun, dan penari Saman mengenakan baju adat Gayo.

Menurut Zam Zam, hal ini perlu diluruskan, karena pembukaan Asian Games adalah acara besar berskala internasional yang memberikan referensi dan gambaran tentang kebudayaan Indonesia di mata internasional.

"Itu acara besar, tapi terjadi pengkaburan identitas budaya di sana, yakni Saman sebagai tari tradisi masyarakat Gayo yang sudah diakui dunia. Ini sangat disayangkan, maka pemerintah harus mengklarifikasi kepada media-media nasional yang sudah terlanjur menulisnya tari Saman," tutur Zam Zam.
 

Pewarta: Kurnia Muhadi

Editor : Heru Dwi Suryatmojo


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2018