Banda Aceh (Antaranews Aceh) - Sepintas bila melewati Kampung Wih Porak, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, seperti desa lainnya di Aceh, sepi tapi damai, karena memang tidak banyak penduduk.

Selain pemandangan bukit, lereng, sawah ladang, di pinggir jalan terdapat rumah-rumah penduduk dan beberapa kios yang jaraknya agak berjauhan, sehingga terkesan sunyi, apalagi pada malam hari.

Kampung Wih Porak yang berjarak sekitar 15 Km dari Takengon, Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah itu, ternyata di tengah dikesunyian tersebut sedang dibangun mega proyek, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan 1 dan 2.

Proyek yang nantinya bisa menghasilkan daya 88 megawatt tersebut tidak kelihatan dipermukaan, karena pembangkit itu dibangun di dalam tanah.

Sebenarnya proyek tersebut sudah mulai dibangun sejak 1998 atau sekitar 20 tahun lalu, tapi karena berbagai kendala yang dihadapi, khususnya konflik bersenjata, maka sempat terhenti.

Bahkan sejumlah wartawan yang mengikuti Media Tour meninjau langsung proyek tersebut sempat terkejut dan ada yang agak ketakutan ketika mobil yang membawa mereka langsung masuk ke terowongan yang panjangnya sekitar 1 Km.

Padahal sebelumnya, para wartawan sudah diberi perlengkapan pengamanan, seperti helm, sapatu boot, dan masker.

Ternyata, terowongan yang berada sekitar 700 meter dari permukaan tanah tersebut merupakan pos stasiun 1 yang menjadi dasar dan digali kembali untuk diletakkan mesin turbin pembangkit.

General Manager (GM) PT PLN (Persero), UIP Pembangkit Sumatera, Weddy B Sudirman kepada wartawan di lokasi, Jumat (7/9) menyatakan, sepintas kalau dilihat ada kesan proyek mangkrak, namun isu itu tidak benar, karena memang kegiatannya tidak kelihatan.

Padahal proyek yang sudah lama direncanakan itu tetap berjalan dan sampai sekarang progresnya sudah mencapai 35 persen untuk pos stasiun 1, katanya.

Dikatakan, proyek ini sempat tertunda, karena berbagai kendala, seperti konflik dan yang terakhir terjadinya gempa, sehingga perlu dilakukan penelitian ulang yang berpengaruh terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek.

Selain faktor gempa dan nonteknis lainnya, pembangunan PLTA Peusangan juga menghadapi kendala lahan. Lahan yang sudah dibebaskan, kembali dikuasai masyarakat karena pembangunannya sempat terhenti beberapa lama.

"Bahkan, sampai sekarang masih ada masyarakat yang mengklaim pembebasan lahan, padahal tanah mereka sudah dibayar. Jadi, kami tidak mungkin membayar pembebasan lahan yang sudah dibebaskan sebelumnya," ungkap Weddy.

Namun, proyek senilai sekitar Rp4 triliun lebih dan 80 persen bersumber dari dana pinjaman Pemerintah Jepang itu kini sudah berjalan kembali sejak 2011.

Pekerjaan fisik proyek tersebut dikerjakan kontraktor Hyundai dari Korea Selatan yang bermitra dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pembangunan Perumahan.

Pos stasiun 1 itu merupakan pembangkit satu, dan bila selesai, maka dilanjutkan pos stasiun 2 yang merupakan pembangkit dua yang berada di permukaan tanah.

"Kita berharap PLTA Peusangan 1 dan 2 bisa beroperasi secara resmi pada 2021 atau tiga tahun mendatang untuk memenuhi kebutuhan listrik di Aceh Tengah dan Bener Meriah dan selebihnya disuplai ke jaringan sumatera," katanya.

Proyek PLTA Peusangan dibangun pada hulu sungai Peusangan yang memanfaatkan air Danau Laut Tawar yang terletak di Takengon.

Proyek ini telah melakukan beberapa studi pendahuluan sejak tahun 1970-an. Studi kelayakan dilakukan melalui program bantuan teknik dari Pemerintah Belgia 1984-1988.

Design pengembangan energi listrik ini menggunakan tipe "run off river" yang merupakan pengembangan energi ramah lingkungan, sehingga mampu mengurangi beban finansial, mencegah dampak lingkungan sosial serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang bersih tanpa menghilangkan keaslian lingkungan.

Menghemat biaya

Kehadiran mega proyek PLTA Peusangan selain bisa memenuhi kebutuhan listrik tapi juga bisa menghemat biaya operasional PLN, khususnya di wilayah Aceh hingga Rp26 miliar/tahun.

GM PLN Aceh, Jefri Rosiadi yang hadir dalam media tour itu menjelaskan sekarang ini biaya operasional PLN mencapai Rp2.394/Kwh, tapi apabila PLTA Peusangan berfungsi, maka bisa menghemat Rp1.700/Kwh atau sekitar Rp26 miliar/tahun.

"Jadi, kalau PLTA Peusangan ini sudah mampu memasok listrik ke seluruh Aceh, maka PLN Aceh bisa menghemat biaya operasional mencapai Rp26 miliar/tahun," ujar dia.

Ia menyatakan, beban puncak listrik di Aceh saat ini mencapai 400 MW, sedangkan kapasitas yang dimiliki Aceh sebesar 300 MW, sehingga harus disuplai dari Medan, Sumatera Utara sekitar 100 MW.

Dikatakan, jika PLTA Peusangan telah beroperasi, maka operasional Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Ayangan yang mensuplai kebutuhan listrik untuk Kabupaten Aceh Tengah akan dihentikan.

Jika PLTA tersebut nantinya beroperasi, 12 MW di antaranya akan disuplai untuk kebutuhan masyarakat Aceh Tengah. Selebihnya dari 88 MW akan disuplai ke gardu induk di Bireuen dan selanjutnya masuk subsistem jaringan listrik Sumatera.

Kehadiran PLTA Peusangan ini nantinya turut mendongkrak perekonomian masyarakat, sehingga diharapkan penyelesaian proyek ini bisa tepat waktu.

Weddy menyebutkan, dengan investasi sebesar Rp4 triliun lebih itu diharapkan akan menimbulkan multiplier effect ekonomi yang besar.

"Kami memperkirakan setiap Rp1 trilun yang diinvestasikan akan menimbulkan mulplier effectnya mencapai Rp2,8 triliun, sehingga kalau invetasinya Rp4 tiliun bisa mencapai Rp14 triliun," katanya.

Selain itu, investor yang ingin berbisnis atau menanamkan investasinya di Aceh tidak perlu khawatir lagi dengan masalah ketersediaan pasokan listrik. Pihak PLN memastikan bahwa kebutuhan daya listrik saat ini sudah mencukupi.

"Setelah PLTA Peusangan berfungsi, maka PLN sudah sangat siap melayani dan memenuhi kebutuhan investor," kata Jefri.

PLN, kata dia, sekarang ini sudah menjadi sokoguru (pilar) terdepan terhadap pembangunan ekonomi dengan menyediakan listrik dalam jumlah yang memadai.

Sudah menjadi hal yang penting bagi investor dalam menanamkan modalnya, yakni ketersediaan listrik. "Jadi kedepan Aceh akan surplus listrik, sehingga siapa saja yng ingin menananmkan modalnya di Aceh tidak perlu khawatir lagi," katanya.

Dikatakan, proyek ini masih panjang, sehingga pihaknya juga butuh stamina untuk menyelesaikan pembangunan PLTA Peusangan," kata Weddy.
 

Pewarta: Heru Dwi Suryatmojo

Uploader : Salahuddin Wahid


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2018