Banda Aceh (ANTARA) - Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo meninjau langsung longsoran tanah di Desa Pondok Balik Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah yang terus meluas hingga menggerus jalan penghubung dengan Kabupaten Bener Meriah, Jumat.
"Hari ini spesifik saya sengaja berkunjung ke Aceh Tengah, karena kemarin di Sentul selain ketemu Bupati (Aceh Tengah), juga ada arahan singkat dari pak Seskab untuk memang saya lebih fokus ke sini (longsoran)," kata Dody Hanggodo, di Aceh Tengah, Jumat.
Dalam peninjauan ini, Menteri Dody didampingi Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, Bupati Bireuen Mukhlis Takabeya, Pimpinan DPRK Aceh, Forkopimda Aceh Tengah, serta jajaran Kementerian PU di Aceh.
Baca juga: Longsoran tanah di Ketol Aceh Tengah meluas hingga 30.000 meter persegi
Saat kunjungan ke lokasi, sempat terdengar tiga kali suara runtuhan tanah di longsoran tersebut, bahkan terasa gempa pada posisi Menteri Dody berdiri sekitar 20 meter dari titik lubang raksasa tersebut.
"Tadi pas kita ke sana kan ada terasa gempa, ya berarti area disitu tidak 100 persen secure (aman) gitu, jadi di bawah ini masih ada pergerakan air," ujarnya.
Dody mengatakan, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada dirinya yang disampaikan melalui Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, longsoran ini harus dilakukan penanganan maksimal.
"Arahan dari Pak Presiden juga melalui Seskab agar penanganannya (longsoran tanah di Aceh Tengah) bersifat komprehensif," tegas Dody Hanggodo.
Sebagai informasi, berdasarkan perhitungan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, longsoran tersebut pada 2021 seluas 20.199 m², dan kini telah mencapai 30 ribu m². Artinya bertambah 10.000 m² dalam lima tahun terakhir.
Kemudian, Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan penyebab gerakan tanah ini dapat terjadi diantaranya karena batuan yang mudah lepas ketika terkena air, kemiringan lereng yang menyebabkan batuan mudah bergerak, erosi lateral dan adanya drainase yang membuat lereng tidak stabil dan jenuh air.
Saat ini, tim Badan Geologi yang terdiri dari pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi serta pusat air tanah dan geologi tata lingkungan sedang melaksanakan kajian untuk pemutakhiran data.
Analisis awal disimpulkan, fenomena tersebut bukan merupakan sinkhole, melainkan Piping Erosion atau erosi buluh/erosi bawah permukaan. Hasil kajian bakal di update setelah semua proses selesai.
Disisi lain, berdasarkan laporan BPBD Aceh Tengah, longsoran tanah di sana awalnya berbentuk lubang kecil sejak awal tahun 2000-an, dan terus bergerak secara bertahap sejak 2004.
Dari laporan masyarakat sekitar, pada 2006 longsoran tersebut sudah pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik (penghubung Kabupaten Aceh Tengah - Bener Meriah).
Bahkan, pernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada tahun 2013-2014. Rehabilitasi dan rekonstruksi pernah dilakukan sebanyak tiga tahapan pada periode tersebut.
Baca juga: Longsoran di Aceh Tengah berpotensi sinkhole, begini tanggapan ahli geolog
Pewarta: Rahmat FajriEditor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026