Tapaktuan, 26/12 (Antaraaceh) - Ketua DPD II Partai Golangan Karya (Golkar) Kabupaten Aceh Selatan T Mudasir meminta kepada Bupati H T Sama Indra segera mengevaluasi kinerja Direktur PDAM Tirta Naga Tapaktuan, Junaidi Zaid SE.
"Jika dari hasil evaluasi nanti yang bersangkutan terbukti berkinerja buruk, maka Bupati juga diminta segera mencopot jabatan yang bersangkutan," katanya di Tapaktuan, Jumat.
Soalnya, kata dia, sudah satu tahun Junaidi menahkodai perusahaan air minum milik Pemkab Aceh Selatan tersebut, namun yang bersangkutan dinilai tidak mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan kepada masyarakat.
Menurut Mudasir, buruknya kinerja yang ditunjukkan selama ini di samping karena oknum Direktur PDAM Tirta Naga tersebut kurang mengerti tentang penyediaan air bersih karena latar belakang pendidikan serta pengalamannya bukan berasal dari teknik, dalam bekerja dia juga dinilai lebih berorientasi kepada materi.
Hal itu terbukti, beberapa bulan pasca menjabat yang bersangkutan langsung mengajukan kenaikan gaji mencapai Rp18 juta/bulan, sehingga menuai aksi protes dari berbagai pihak termasuk anggota DPRK Aceh Selatan.
“Di bawah kepemimpinan oknum direktur ini, cukup banyak persoalan yang timbul, mulai dari tidak harmonisnya hubungan kerja dengan internal karyawan sampai buruknya kualitas pelayanan yang diberikan, terlalu berorientasi materi termasuk juga tidak mampu memberikan kontribusi PAD yang maksimal kepada daerah dan bahkan terkesan perusahaan itu seperti menjadi 'benalu' yang membebani keuangan daerah selama ini,” kata Mudasir.
Mantan anggota DPRK Aceh Selatan yang duduk di Komisi C membidangi tugas kerja PDAM ini menegaskan, terkait kinerja oknum direktur, pernah dipanggil pihak dewan saat dia masih menjabat dulu.
“Terkait persoalan gaji yang diajukan cukup besar mencapai Rp18 juta/bulan itu, telah pernah kami panggil, sebab kami menilai gaji sebesar itu sangat tidak relevan dan tidak sesuai dengan kinerja serta kemampuan keuangan yang ada saat ini," ujarnya.
Mudasir menambahkan, persoalan yang menjadi keluhan dan keresahan masyarakat pelanggan air dalam Kota Tapaktuan selama ini akibat buruknya pelayanan perusahaan air minum tersebut adalah, suplai air ke rumah penduduk sering dimatikan di saat musim hujan tiba.
“Contohnya seperti yang terjadi saat ini, sudah berlangsung selama satu minggu suplai air ke rumah penduduk sering mati. Yang lebih menyedihkan lagi, jika pun suplai air dihidupkan air yang masuk ke rumah penduduk bercampur lumpur serta berwarna kuning,” sesalnya.
Menurutnya, selama satu minggu terakhir masyarakat pelanggan air PDAM Tirta Naga Tapaktuan tidak dapat memanfaatkan air tersebut. Air yang bercampur lumpur itu, jangankan untuk dikonsumsi untuk keperluan mandi saja tidak bisa.
“Persoalan ini telah menjadi keresahan luar biasa masyarakat Kota Tapaktuan. Sebab untuk keperluan memasak dan mandi, masyarakat terpaksa harus membeli air galon yang dijual di tempat isi ulang, yang artinya bahwa masyarakat terpaksa harus mengeluarkan biaya lagi untuk mendapatkan air bersih,” ungkapnya.
Anehnya, kata Mudasir, meskipun kondisi seperti itu telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, tapi pihak PDAM Tirta Naga Tapaktuan sampai saat ini tak sanggup mencari solusi untuk mengatasi persoalan itu.
“Sehingga yang terkesan selama ini bahwa, PDAM Tirta Naga Tapaktuan bukan lagi perusahaan penyedia air bersih kepada warga, tapi sudah menjadi perusahaan penyedia air kotor bercampur lumpur. Terkesan managemen PDAM seperti tidak berfungsi atau tidak bekerja, sebab air yang berasal dari sungai atau sumber mata air langsung didistribusikan ke rumah warga tanpa ada upaya penyaringan, sehingga air yang masuk ke rumah penduduk sama persis seperti kondisi air di sungai,” bebernya.
Atas dasar itulah, kata Mudasir, pihaknya meminta kepada Bupati Sama Indra agar segera mengevaluasi kinerja Direktur PDAM Tirta Naga Tapaktuan, Junaidi Zaid karena yang bersangkutan dinilai tidak mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan kepada masyarakat selama ini.
"Jika dalam evaluasi kinerja nanti yang bersangkutan terbukti tidak becus bekerja karena ketidakmampuannya, maka saya meminta kepada Bupati Sama Indra agar yang bersangkutan segera dicopot dan menggantikan dengan sosok atau figur pejabat yang di nilai lebih mampu dan menguasai ilmu bidang penyediaan air bersih, agar pelayanan dapat lebih baik ke depannya,” pinta Mudasir.
Direktur PDAM Tirta Naga Tapaktuan Junaidi Zaid SE saat dimintai tanggapannya menolak berkomentar. “Tidak perlu saya tanggapi hal itu,” ujarnya singkat.
Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Tekhnik PDAM Tirta Naga Tapaktua, Doddy Fachrizal ST mengatakan, penyebab pihaknya mematikan suplai air sejak seminggu terakhi ke rumah penduduk dalam Kota Tapaktuan, karena sebanyak 10 batang pipa HDPE yang berfungsi mengaliri air dari lokasi sumber air Lubuk Simerah Desa Jambo Apha patah dan sebagian lainnya hanyut akibat dihantam banjir bandang Minggu (21/12).
“Terjadi putus suplai air ini khusus dari sumber air Lubuk Simerah saja yang berfungsi untuk mengaliri air ke Desa Jambo Apha, Pasar, Hulu, Hilir, dan sebagian Desa Lhok Keutapang Kecamatan Tapaktuah, sedangkan untuk sumber air lainnya tetap normal,” sebutnya.
Dia mengaku, untuk lokasi sumber air yang rawan banjir bandang sebenarnya memang tidak cocok dipasang pipa jenis HDPE sebab rawan patah dan hanyut akibat diterjang banjir. Untuk lokasi seperti itu, menurutnya pipa yang cocok di pasang adalah pipa besi, karena dinilai lebih kokoh.
“Untuk mengatasi agar persoalan itu tidak terulang lagi, kami telah mengusulkan ke Dinas Pekerjaan Umum Aceh Selatan agar dapat diadakan pipa besi, jawaban dari pihak Dinas PU untuk pengadaan pipa besi tersebut akan dianggarkan pada tahun 2015,” jelasnya.
Sedangkan terkait dengan suplai air ke rumah penduduk mati akibat terjadi kerusakan pipa di sumber air Lubuk Simerah, menurut Doddy, hal itu sedang dilakukan upaya perbaikan oleh pihaknya dan diperkirakan suplai air ke rumah penduduk kembali akan normal pada Sabtu (27/12) siang.
“Sebenarnya, upaya perbaikan telah kami lakukan sejak beberapa hari lalu, namun karena intensitas curah hujan masih tinggi sehingga mengakibatkan upaya perbaikan jaringan Pipa terhenti karena dilokasi sumber air sering terjadi banjir disaat curah hujan telah tinggi, namun untuk saat ini persoalan itu telah mampu kami atasi dan diperkirakan suplai air ke rumah Penduduk kembali akan normal Sabtu (27/12) siang,” pungkasnya.


Editor : Antara Aceh

COPYRIGHT © ANTARA 2026