"Kami tidak tinggal diam menyikapi persoalan ini, langkah penanganan segera kami lakukan yakni akan memperbaiki tanggul pengaman kantong lumpur irigasi yang telah rusak sepanjang 16 meter,"
Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Pemkab Aceh Selatan bertanggungjawab penuh atas rusaknya tanggul pengaman kantong lumpur irigasi di Desa Kayee Aceh , Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) sepanjang 16 meter, sebagai dampak dari pembangunan tanggul intake (mulut tangkapan air) Irigasi Labuhanhaji Barat.
"Kami tidak tinggal diam menyikapi persoalan ini, langkah penanganan segera kami lakukan yakni akan memperbaiki tanggul pengaman kantong lumpur irigasi yang telah rusak sepanjang 16 meter," kata Bupati Aceh Selatan H T Sama Indra melalui Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA), Muhammad Yunus di Tapaktuan, Kamis.
Selain itu, di sepanjang irigasi tersebut akan disusun batu gajah (batu ukuran besar) untuk menghindari kembali rusaknya tanggul pengaman irigasi akibat terjangan air, katanya.
Penegasan itu disampaikan Kadis Sumber Daya Air Aceh Selatan merespon pernyataan Bupati Abdya Jufri Hasanuddin yang dilansir media massa Rabu (16/9).
Bupati Abdya meminta kepada Bupati Aceh Selatan agar bertanggungjawab atas rusaknya bangunan tanggul pengaman kantong lumpur irigasi Desa Kayee Aceh akibat diterjang derasnya arus sungai Krueng Baru, dampak dari pembangunan tanggul intake Irigasi Labuhanhaji Barat, Kabupaten Aceh Selatan.
Menurut Jufri, kerusakan tanggul pengaman kantong lumpur irigasi Desa Kayee Aceh tersebut akan mengancam berkurangnya debit air yang mengaliri irigasi dimaksud sehingga ribuan hektare lahan persawahan milik masyarakat di Kecamatan Lembah Sabil, Abdya, tidak menerima pasokan air secara maksimal.
"Pembangunan tanggul intake (mulut tangkapan air) Irigasi Labuhanhaji Barat itu, terkesan tanpa perencanaan yang matang. Demi terakomodirnya kepentingan Aceh Selatan, mereka rela mengorbankan kepentingan rakyat Abdya," protes Jufri.
Menyikapi tudingan sepihak tersebut, M Yunus menyatakan, pernyataan Bupati Abdya Jufri Hasanuddin terlalu dilebih-lebihkan serta cenderung tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
Sebab, kata dia, fakta di lapangan saat ini suplai air ke lahan persawahan warga Kecamatan Lembah Sabil, yang di aliri dari Irigasi Desa Kayee Aceh, masih tetap normal atau masih lancar seperti biasa.
M Yunus yang mengaku berada di lokasi Sungai Krueng Baru saat dihubungi dari Tapaktuan, menegaskan bahwa, sejak beberapa hari lalu pihaknya sudah melakukan pengecekan langsung ke irigasi dimaksud dan didapati fakta bahwa, kerusakan tanggul pengaman kantong lumpur sepanjang 16 meter, tidak mengganggu pasokan air ke lahan persawahan warga melalui irigasi tersebut.
Pihaknya, kata dia, juga tidak bisa menerima tudingan Bupati Abdya yang menyatakan pembangunan tanggul intake (mulut tangkapan air) Irigasi Labuhanhaji Barat, di Sungai Krueng Baru tersebut tanpa perencanaan yang matang.
Menurut Yunus, pembangunan proyek itu telah melalui perencanaan yang cukup matang sebab paket pekerjaan proyek itu termasuk dengan penyusunan batu gajah di sepanjang irigasi Desa Kayee Aceh, sehingga diprediksi mampu melindungi tanggul pengaman kantong lumpur irigasi dimaksud dari terjangan arus sungai.
Hanya saja, sambung Yunus, disaat sedang berlangsungnya pengerjaan proyek tersebut tiba-tiba terjadi bencana alam berupa banjir pasca wilayah itu di guyur hujan lebat Minggu (13/9).
"Sebenarnya, persoalan ini timbul akibat bencana alam bukan kesengajaan dari pihak kami. Pekerjaan proyek itu belum rampung sebab masih ada item pekerjaan penyusunan batu gajah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Desa Kayee Aceh untuk melindungi bangunan irigasi Kecamatan Lembah Sabil dari terjangan air Sungai Krueng Baru," ujarnya.
Karena itu, kata dia, pihaknya menyesalkan pernyataan Bupati Abdya yang terkesan langsung menyudutkan atau menyalahkan Pemkab Aceh Selatan atas terjadinya kerusakan bangunan tanggul pengaman kantong lumpur irigasi Desa Kayee Aceh tersebut.
"Tudingan sepihak yang dilancarkan Bupati Abdya tersebut terkesan tidak adil atau berat sebelah, sebab disaat pembangunan tanggul intake irigasi oleh Pemkab Abdya untuk mengaliri air ke persawahan warga Kecamatan Manggeng yang lokasinya juga berada di Sungai Krueng Baru (di atas lokasi pembangunan tanggul intake Irigasi Labuhanhaji Barat)," ujarnya.
Pemkab Aceh Selatan tidak melancarkan aksi protes, meskipun pemasangan batu gajah yang melintangi sungai itu jauh mendekati wilayah Aceh Selatan bahkan dampak dari itu juga telah mengakibatkan pengikisan (erosi) di sepanjang DAS wilayah Aceh Selatan, ujar M Yunus.
Sementara itu, tokoh masyarakat Labuhanhaji, Azmir SH mengatakan, pihaknya menyesalkan langkah Bupati Abdya yang melancarkan aksi protes terhadap Pemkab Aceh Selatan menyikapi persoalan itu melalui media massa. Seharusnya, kata Azmir, sesama pejabat yang memangku jabatan orang nomor satu dijajaran eksekutif, Bupati Abdya bisa menyelesaikan persoalan itu melalui cara-cara diplomasi dengan menjumpai langsung Bupati Aceh Selatan.
"Kami tidak tinggal diam menyikapi persoalan ini, langkah penanganan segera kami lakukan yakni akan memperbaiki tanggul pengaman kantong lumpur irigasi yang telah rusak sepanjang 16 meter," kata Bupati Aceh Selatan H T Sama Indra melalui Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA), Muhammad Yunus di Tapaktuan, Kamis.
Selain itu, di sepanjang irigasi tersebut akan disusun batu gajah (batu ukuran besar) untuk menghindari kembali rusaknya tanggul pengaman irigasi akibat terjangan air, katanya.
Penegasan itu disampaikan Kadis Sumber Daya Air Aceh Selatan merespon pernyataan Bupati Abdya Jufri Hasanuddin yang dilansir media massa Rabu (16/9).
Bupati Abdya meminta kepada Bupati Aceh Selatan agar bertanggungjawab atas rusaknya bangunan tanggul pengaman kantong lumpur irigasi Desa Kayee Aceh akibat diterjang derasnya arus sungai Krueng Baru, dampak dari pembangunan tanggul intake Irigasi Labuhanhaji Barat, Kabupaten Aceh Selatan.
Menurut Jufri, kerusakan tanggul pengaman kantong lumpur irigasi Desa Kayee Aceh tersebut akan mengancam berkurangnya debit air yang mengaliri irigasi dimaksud sehingga ribuan hektare lahan persawahan milik masyarakat di Kecamatan Lembah Sabil, Abdya, tidak menerima pasokan air secara maksimal.
"Pembangunan tanggul intake (mulut tangkapan air) Irigasi Labuhanhaji Barat itu, terkesan tanpa perencanaan yang matang. Demi terakomodirnya kepentingan Aceh Selatan, mereka rela mengorbankan kepentingan rakyat Abdya," protes Jufri.
Menyikapi tudingan sepihak tersebut, M Yunus menyatakan, pernyataan Bupati Abdya Jufri Hasanuddin terlalu dilebih-lebihkan serta cenderung tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
Sebab, kata dia, fakta di lapangan saat ini suplai air ke lahan persawahan warga Kecamatan Lembah Sabil, yang di aliri dari Irigasi Desa Kayee Aceh, masih tetap normal atau masih lancar seperti biasa.
M Yunus yang mengaku berada di lokasi Sungai Krueng Baru saat dihubungi dari Tapaktuan, menegaskan bahwa, sejak beberapa hari lalu pihaknya sudah melakukan pengecekan langsung ke irigasi dimaksud dan didapati fakta bahwa, kerusakan tanggul pengaman kantong lumpur sepanjang 16 meter, tidak mengganggu pasokan air ke lahan persawahan warga melalui irigasi tersebut.
Pihaknya, kata dia, juga tidak bisa menerima tudingan Bupati Abdya yang menyatakan pembangunan tanggul intake (mulut tangkapan air) Irigasi Labuhanhaji Barat, di Sungai Krueng Baru tersebut tanpa perencanaan yang matang.
Menurut Yunus, pembangunan proyek itu telah melalui perencanaan yang cukup matang sebab paket pekerjaan proyek itu termasuk dengan penyusunan batu gajah di sepanjang irigasi Desa Kayee Aceh, sehingga diprediksi mampu melindungi tanggul pengaman kantong lumpur irigasi dimaksud dari terjangan arus sungai.
Hanya saja, sambung Yunus, disaat sedang berlangsungnya pengerjaan proyek tersebut tiba-tiba terjadi bencana alam berupa banjir pasca wilayah itu di guyur hujan lebat Minggu (13/9).
"Sebenarnya, persoalan ini timbul akibat bencana alam bukan kesengajaan dari pihak kami. Pekerjaan proyek itu belum rampung sebab masih ada item pekerjaan penyusunan batu gajah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Desa Kayee Aceh untuk melindungi bangunan irigasi Kecamatan Lembah Sabil dari terjangan air Sungai Krueng Baru," ujarnya.
Karena itu, kata dia, pihaknya menyesalkan pernyataan Bupati Abdya yang terkesan langsung menyudutkan atau menyalahkan Pemkab Aceh Selatan atas terjadinya kerusakan bangunan tanggul pengaman kantong lumpur irigasi Desa Kayee Aceh tersebut.
"Tudingan sepihak yang dilancarkan Bupati Abdya tersebut terkesan tidak adil atau berat sebelah, sebab disaat pembangunan tanggul intake irigasi oleh Pemkab Abdya untuk mengaliri air ke persawahan warga Kecamatan Manggeng yang lokasinya juga berada di Sungai Krueng Baru (di atas lokasi pembangunan tanggul intake Irigasi Labuhanhaji Barat)," ujarnya.
Pemkab Aceh Selatan tidak melancarkan aksi protes, meskipun pemasangan batu gajah yang melintangi sungai itu jauh mendekati wilayah Aceh Selatan bahkan dampak dari itu juga telah mengakibatkan pengikisan (erosi) di sepanjang DAS wilayah Aceh Selatan, ujar M Yunus.
Sementara itu, tokoh masyarakat Labuhanhaji, Azmir SH mengatakan, pihaknya menyesalkan langkah Bupati Abdya yang melancarkan aksi protes terhadap Pemkab Aceh Selatan menyikapi persoalan itu melalui media massa. Seharusnya, kata Azmir, sesama pejabat yang memangku jabatan orang nomor satu dijajaran eksekutif, Bupati Abdya bisa menyelesaikan persoalan itu melalui cara-cara diplomasi dengan menjumpai langsung Bupati Aceh Selatan.
Pewarta: Pewarta : Hendrik: Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.