Lhokseumawe (ANTARA Aceh) - Pengusaha pengolahan getah buah rotan jernang di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, lesu akibat tingginya operasional dan tidak sesuainya harga jual.
Salah seorang pengusaha buah rotan jernang di Kota Lhokseumawe Safaruddin di Lhokseumawe, Rabu mengatakan, operasional yang dikeluarkan untuk membeli buah jernang yang masih mentah sebanyak tuk 100 kilogram mencapai Rp45 juta.
Apabila sudah ditumbuk halus dan menjadi tepung, maka beratnya hanya mencapai 30 kilogram. Sehingga sangat tidak seimbang dengan biaya operasional yang telah dikeluarkan untuk membeli buah yang masih mentah.
"Biaya operasional yang dikeluarkan cukup tinggi dan belum lagi biaya untuk transpotasi saat dikirim ke Medan, Provinsi Sumatera Utara, juga sangat tinggi, sehingga mengalami kerugian," ujar Safaruddin.
Ia menambahkan, biaya transpotasi untuk pengiriman barang ke Medan membutuhkan biaya sebesar Rp2 juta, sedangkan harga jual hanya berkisar Rp1,6 juta saja dan sangat tidak seimbang.
Alangkah baiknya, kata dia, apabila ada permintaan buah tersebut, maka transaksinya harus di Aceh dan tidak perlu di Medan, karena membutuhkan biaya operasional yang sangat tinggi.
"Seharusnya, transaksi jual beli buah jernang ini di Aceh saja dan tidak perlu di Medan. Selain membutuhkan biaya yang cukup besar, juga sangat membuang-buang waktu," kata Safaruddin.
Safaruddin mengaku, dirinya sudah tiga tahun menjadi pengusaha buah jernang dan baru sekarang mengalami kerugian yang mencapai Rp12 juta, akibat harga jual yang tidak seimbang dengan biaya operasional.
Buah jernang tersebut diperoleh dari beberapa kabupaten di sekitar Lhokseumawe, seperti di Kabupaten Aceh Tenggah, Aceh Barat dan sebagian di Aceh Utara, dipasarkan melalui Sumatera Utara, untuk selanjutnya baru mengekspor ke Tiongkok.
"Kita hanya mengirim buah itu ke Medan, kemudian pengusaha di sana baru mengekspor ke Tiongkok," kata Safaruddin.
Salah seorang pengusaha buah rotan jernang di Kota Lhokseumawe Safaruddin di Lhokseumawe, Rabu mengatakan, operasional yang dikeluarkan untuk membeli buah jernang yang masih mentah sebanyak tuk 100 kilogram mencapai Rp45 juta.
Apabila sudah ditumbuk halus dan menjadi tepung, maka beratnya hanya mencapai 30 kilogram. Sehingga sangat tidak seimbang dengan biaya operasional yang telah dikeluarkan untuk membeli buah yang masih mentah.
"Biaya operasional yang dikeluarkan cukup tinggi dan belum lagi biaya untuk transpotasi saat dikirim ke Medan, Provinsi Sumatera Utara, juga sangat tinggi, sehingga mengalami kerugian," ujar Safaruddin.
Ia menambahkan, biaya transpotasi untuk pengiriman barang ke Medan membutuhkan biaya sebesar Rp2 juta, sedangkan harga jual hanya berkisar Rp1,6 juta saja dan sangat tidak seimbang.
Alangkah baiknya, kata dia, apabila ada permintaan buah tersebut, maka transaksinya harus di Aceh dan tidak perlu di Medan, karena membutuhkan biaya operasional yang sangat tinggi.
"Seharusnya, transaksi jual beli buah jernang ini di Aceh saja dan tidak perlu di Medan. Selain membutuhkan biaya yang cukup besar, juga sangat membuang-buang waktu," kata Safaruddin.
Safaruddin mengaku, dirinya sudah tiga tahun menjadi pengusaha buah jernang dan baru sekarang mengalami kerugian yang mencapai Rp12 juta, akibat harga jual yang tidak seimbang dengan biaya operasional.
Buah jernang tersebut diperoleh dari beberapa kabupaten di sekitar Lhokseumawe, seperti di Kabupaten Aceh Tenggah, Aceh Barat dan sebagian di Aceh Utara, dipasarkan melalui Sumatera Utara, untuk selanjutnya baru mengekspor ke Tiongkok.
"Kita hanya mengirim buah itu ke Medan, kemudian pengusaha di sana baru mengekspor ke Tiongkok," kata Safaruddin.
Pewarta: Pewarta : MukhlisUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.