Langsa (ANTARA Aceh) - Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (Partai Lokal) Muzakir Manaf yang juga menjabat Wakil Gubernur periode 2012-2017 dikabarkan bakal kembali maju sebagai calon gubernur pada Pilkada mendatang. Sejauh ini seperti diketahui Mulaem mengklaim telah mengantongi dukungan sejumlah partai politik.
Pengamat politik dan keamanan Aceh Aryos Novada mengatakan, ada yang menarik dari pernyataan Muzakir Manaf (Mualem) yang mengklaim mendapat dukungan dari 11 partai politik (parpol) di Aceh. Terlihat adanya sejumlah kepentingan dan tarik ulur dukungan dari sejumlah Parpol.
''Sebelumnya saya patut apresiasi komunikasi lintas partai politik yang dilakukan Mualem. Pesan tersiratnya Partai Aceh masih memiliki pegaruh kuat dalam mempengaruhi arah politik di Pilkada 2017. Ada beberapa catatan dalam analisis saya,'' kata Aryos.
Pertama sebut dia, tindakan Mualem mengumpulkan partai politik memperlihatkan respon ketakutan dirinya terhadap larinya dukungan partai politik dari sebagian besar yang tergabung dalam Koalisi Aceh Bermartabat. Ini upaya untuk mengkonsolidasi kembali sekaligus memastikan arah dukungan dan usungan dari partai politik.
Kedua, lanjut Aryos, partai politik yang hadir seharusnya menghormati apa yang sudah diputuskan oleh DPP masing-maisng. Misalnya Partai Amanat Nasional (PAN) yang sudah memutuskan mengusung Farhan Hamid tapi faktanya ketua DPW PAN menghadiri undangan dari Muzakir Manaf untuk rapat.
''Berarti ada yang tidak selesai di internal PAN dalam mengusung Farhan Hamid, walaupun sudah diputuskan DPP,'' katanya.
Menurutnya, sedangkan dukungan dan usungan yang diberikan DPD Golkar Aceh kepada Muzakir Manaf untuk maju sebagai gubernur ke depannya patut dipertanyakan. Hal ini, sambung Aryos, karena posisi Sulaiman Abda sudah dipulihkan sebagai DPD I Partai Golkar Aceh yang sempat lepas darinya.
Otomatis dukungan awalnya diberikan kepada Mualem menurut versi pengurus munas Bali (Aburizal Bakrie/ARB) berpeluang akan ditarik lagi, karena dianggap tidak sah. Selanjutnya dukungan dan usungan dari Partai Golkar diarahkan kepada kandidat lain.
Ketiga, lanjut dia, pertemuan rapat Muzakir Manaf dengan lintas partai politik untuk kesekian kalinya menunjukan belum menemukan titik kesepakatan semua Parpol dalam mengusung wakil gubernur yang mendampingi Mualem.
''Menurut saya sulit menyatukan banyak kepentingan dan keinginan dari partai politik untuk menjagokan kadernya masing-masing. Informasi yang saya himpun, ada tiga kandidat yang diusung dari Koalisi Aceh Bermartabat untuk mendampingi Mualem dari partai pendukung. Mereka itu, Anwar Ahmad, TA Khalid, dan Nova Iriansyah,'' ulas Aryos.
''Makanya partai politik masih menarik ulur dalam memberikan pernyatan resmi untuk mendukung Muzakir Manaf sebagai gubernur Aceh 2017 mendatang, karena ingin melihat keputusan akhir dari Partai Aceh. Jika tetap Partai Aceh mengusung dari kalangan internalnya sediri, maka berpotensi partai politik lain akan tarik diri mendukung dan mengusung Muzakir Manaf,'' papar pengamat ini.
Tapi, kata dia lagi, dengan catatan jika diumumkan secepatnya oleh Muzakir Manaf, jika diumumkan pada detik-detik terakhir maka sulit bagi partai politik mengambil sikap mendukung kandidat tersendiri, karena mereka (partai politik-red) akan mengambil posisi aman mengikuti arus politik.
''Jika itu terjadi semakin memperkecil peluang Mualem menjadi pemenang di Pilkada 2017, karena partai nasional lainnya terkonsolidasi membentuk koalisi besar mengusung kandidat sendiri,'' ujar Aryos menganalisis.
Pengamat politik dan keamanan Aceh Aryos Novada mengatakan, ada yang menarik dari pernyataan Muzakir Manaf (Mualem) yang mengklaim mendapat dukungan dari 11 partai politik (parpol) di Aceh. Terlihat adanya sejumlah kepentingan dan tarik ulur dukungan dari sejumlah Parpol.
''Sebelumnya saya patut apresiasi komunikasi lintas partai politik yang dilakukan Mualem. Pesan tersiratnya Partai Aceh masih memiliki pegaruh kuat dalam mempengaruhi arah politik di Pilkada 2017. Ada beberapa catatan dalam analisis saya,'' kata Aryos.
Pertama sebut dia, tindakan Mualem mengumpulkan partai politik memperlihatkan respon ketakutan dirinya terhadap larinya dukungan partai politik dari sebagian besar yang tergabung dalam Koalisi Aceh Bermartabat. Ini upaya untuk mengkonsolidasi kembali sekaligus memastikan arah dukungan dan usungan dari partai politik.
Kedua, lanjut Aryos, partai politik yang hadir seharusnya menghormati apa yang sudah diputuskan oleh DPP masing-maisng. Misalnya Partai Amanat Nasional (PAN) yang sudah memutuskan mengusung Farhan Hamid tapi faktanya ketua DPW PAN menghadiri undangan dari Muzakir Manaf untuk rapat.
''Berarti ada yang tidak selesai di internal PAN dalam mengusung Farhan Hamid, walaupun sudah diputuskan DPP,'' katanya.
Menurutnya, sedangkan dukungan dan usungan yang diberikan DPD Golkar Aceh kepada Muzakir Manaf untuk maju sebagai gubernur ke depannya patut dipertanyakan. Hal ini, sambung Aryos, karena posisi Sulaiman Abda sudah dipulihkan sebagai DPD I Partai Golkar Aceh yang sempat lepas darinya.
Otomatis dukungan awalnya diberikan kepada Mualem menurut versi pengurus munas Bali (Aburizal Bakrie/ARB) berpeluang akan ditarik lagi, karena dianggap tidak sah. Selanjutnya dukungan dan usungan dari Partai Golkar diarahkan kepada kandidat lain.
Ketiga, lanjut dia, pertemuan rapat Muzakir Manaf dengan lintas partai politik untuk kesekian kalinya menunjukan belum menemukan titik kesepakatan semua Parpol dalam mengusung wakil gubernur yang mendampingi Mualem.
''Menurut saya sulit menyatukan banyak kepentingan dan keinginan dari partai politik untuk menjagokan kadernya masing-masing. Informasi yang saya himpun, ada tiga kandidat yang diusung dari Koalisi Aceh Bermartabat untuk mendampingi Mualem dari partai pendukung. Mereka itu, Anwar Ahmad, TA Khalid, dan Nova Iriansyah,'' ulas Aryos.
''Makanya partai politik masih menarik ulur dalam memberikan pernyatan resmi untuk mendukung Muzakir Manaf sebagai gubernur Aceh 2017 mendatang, karena ingin melihat keputusan akhir dari Partai Aceh. Jika tetap Partai Aceh mengusung dari kalangan internalnya sediri, maka berpotensi partai politik lain akan tarik diri mendukung dan mengusung Muzakir Manaf,'' papar pengamat ini.
Tapi, kata dia lagi, dengan catatan jika diumumkan secepatnya oleh Muzakir Manaf, jika diumumkan pada detik-detik terakhir maka sulit bagi partai politik mengambil sikap mendukung kandidat tersendiri, karena mereka (partai politik-red) akan mengambil posisi aman mengikuti arus politik.
''Jika itu terjadi semakin memperkecil peluang Mualem menjadi pemenang di Pilkada 2017, karena partai nasional lainnya terkonsolidasi membentuk koalisi besar mengusung kandidat sendiri,'' ujar Aryos menganalisis.
Pewarta: Pewarta : Putra ZulfirmanUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.