Meulaboh (ANTARA Aceh) - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, menyarankan petani agar merubah perilaku kegiatan pertaniannya, sehingga memberi nilai tambah terhadap pendapatan dan terjadinya peningkatan ekonomi petani.

Kepala Bidang Perindag pada Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Aceh Barat, Cut Titi Herawati Rahmah, di Meulaboh, Selasa mengatakan, selama ini petani cenderung menggunakan jalan pintas sehingga output dari usaha pertaniannya tidak merubah kehidupan lebih baik.

"Saat ini petani lebih memilih hasil kerjanya praktis, dia sudah tidak mempertimbangkan lagi berapa lama sudah usaha itu dilakukan, yang penting barang cepat laku," katanya saat dijumpai diruang kerjanya.

Cut Titi menjelaskan, dia mencotohkan seperti petani cabai maupun petani tanaman padi yang menjadikan hasil produksinya untuk pasar atau dijual, namun sering ditemukan harga penjualan produksi mereka tidak berpihak.

Disaat harga komoditi seperti cabe merah dipasar tinggi, namun harga pembelian dari agen kepada petani justru rendah, apalagi disaat harga komidtas sayur-mayur itu jatuh karena pasokan melimpah, harga dilepas petani dibawah modal kerjanya.

Sebutnya, dalam posisi tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan agen penampung sebagai perpanjangan mata rantai penjualan, tapi para petani memang lebih menyukai sistem jual beli hasil pertanian secara praktis.

"Saat ini petani tidak lagi membawa langsung barangnya kepasar, tapi agen yang datang membeli ke kebun, barangnya belum panen, tapi agen sudah berikan uang muka dan barangnya diambil saat sudah panen," tegasnya.

Kejadian tersebut adalah kondisi nyata dialami petani cabe, tanaman padi bahkan palawija lain, sehingga permainan harga tergantung pada agen yang kemudian menimbun barang tersebut sebelum dilepas kepasar.

Kata Cut Titi, petani di daerah itupun menyukai sistem demikian karena apapun yang dihasilkan sudah ada yang menampung meski dengan harga miring, disisi lain mempercepat proses kelanjutan usaha pertanian dan tidak memakan biaya tambahan untuk kos pegangkutan.

Cara-cara demikian menurut dia kurang memberi keuntungan finansial bagi produsen, sehingga petani hanya terus berkutak pada kerjanya mencangkul, sementara hasil usahanya tidak memberi dampak kesejahteraan.

"Saat ini memang ada petani yang bawa jual sendiri cabe mereka, tapi yang jumlahnya 1-2 karung, kalau dalam skala besar mereka lebih cenderung menyerahkan pada agen," tegasnya.

Kata Cut Titi, petani memilih managemen agribisnisnya dengan cara praktis karena tidak ada pilihan lain, sebab bila dibawa sendiri kepasar tidak ada jaminan barang akan habis terjual, ataupun harga tampung dipedagang pasar lebih baik dari agen.

Dirinya menyampaika, petani tradisional hanya memahami sistem budidaya dan penyediaan bahan baku, tapi terbatas pengetahuan untuk managemen pemasaran, karena itu pola lama dengan bentuk tukar barang harus coba diterapkan.

"Setelah panen mereka harus tetap upayakan bawa sendiri, kemudian ada sistem tukar barang seperti dulu. Dengan demikian produktivitas masyarakat semakin meningkat dan hasil usaha pertanian mereka akan jelas," katanya menambahkan.



Pewarta: Pewarta : Anwar
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026