"Pendidikan merupakan masalah yang sangat krusial dalam membentuk generasi tangguh Aceh di masa yang akan datang," katanya di Lhokseumawe, Kamis, menanggapi 14 tahun berlangsungnya MoU Helsinki.
Menurut dia, secara kualitas pendidikan di Aceh selama ini sangat tidak menggembirakan. Masih di bawah rata-rata provinsi lain.
Baca juga: Wali Nanggroe harapkan perdamaian Aceh terus berlanjut
Namun, kata dia, dana yang diplotkan untuk pendidikan Aceh juga begitu besar. Tahun 2014 saja dana pendidikan di Aceh untuk meningkatkan mutu mencapai Rp300 miliar.
"Meski dana yang diplot cukup besar akan tetapi hasil yang diperoleh tidak maksimal. Dilihat dari segi kelulusan UN Aceh masih berada pada tingkatan bawah. Lalu kemana uang sebanyak itu," jelas Azhari.
Menurutnya, dari segi kesadaran jiwa-jiwa muda dan masyarakat pada umumnya dalam hal produktif masih kurang, padahal lahan dan sebagainya banyak yang kosong serta waktu luang yang bisa dimanfaatkan.
Baca juga: Bupati Rocky ajak masyarakat rawat perdamaian Aceh
"Saat ini Kita banyak menjumpai warung kopi yang selalu dipenuhi oleh generasi muda dan masyarakat biasa dari pagi hingga malam hari. Ini merupakan sebuah titik penilaian dari karakter generasi mendatang," katanya.
Baca juga: Plt Gubernur: Perdamaian instrumen penting wujudkan Aceh Hebat
Ia menyatakan, sekedar berbicara saja tidak cukup untuk menyadarkan generasi dan masyarakat tapi juga diperlukan aksi nyata agar terinspirasi.
Masa depan Aceh adalah diskursus penting dalam menentukan arah peradaban Aceh ke depan, ulasnya lebih lanjut.
Pewarta: Dedy SyahputraEditor : Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.