Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki menyatakan  Pameran dan Pagelaran Seni Budaya Gayo Aceh Tahun 2022 akan menambah pengetahuan masyarakat luar Aceh,  DKI Jakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

 

“Dataran tinggi Gayo menoreh peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yakni dengan hadirnya siaran Radio Rimba Raya dari tanah Gayo yang turut mempertahankan eksistensi Republik Indonesia di mata dunia, setelah Yogyakarta sebagai ibu kota Negara Republik Indonesia, jatuh ke tangan Belanda, pada tahun 1948,” kata Pj Gubernur Aceh di Jakarta, Sabtu.

 

Pernyataan itu disampaikannya dalam sambutan tertulis dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Almuniza Kamal dalam acara Dialog, Pameran Dan Pagelaran Seni Budaya Gayo Aceh Tahun 2022 di Musara Gayo Jabodetabek, di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat.

 

Menurut dia saatini masih mengenang jasa besar Radio Rimba Raya serta keistimewaan kopi Gayo. 

 

“Tanah Gayo juga menyimpan jutaan hal istimewa lainnya. Selama ini, masyarakat daerah lain di Indonesia masih sedikit sekali yang mengetahui tentang seluk beluk budaya Gayo," katanya.

 

Ia menyebutkan, salah satu yang sudah merebak melewati batas-batas provinsi Aceh adalah seni sulam kerawang. Sulaman dengan pola khas yang diambil dari alam dan kemudian diterapkan pada rumah adat Gayo ini, telah dikenal masyarakat dunia. 

 

"Kalau dulu kerawang digunakan pada kain busana, juga kain adat seperti upuh ulen ulen, kekinian pengembangan penggunaannya sudah sangat maju. Kita dapat menemukan pengembangan kerawang Gayo pada tas, kotak tisu, sarung bantal serta banyak lagi. Ini

bukti, keindahan kerawang Gayo dapat diterima oleh berbagai bangsa serta etnis di Nusantara bahkan di dunia," katanya.

 

Selaian kerawang, Tanah Gayo juga memiliki seni musik dan pertunjukan di mana yang paling populer dikenal adalah tari Saman. Sebuah tari sakral yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Badan PBB urusan Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan (UNESCO).

 

“Alam Tanah Gayo yang terletak di jantung KawasanEkosistem Leuser yang juga dikenal sebagai Paru-paru Dunia, membuat semua produk budaya yang dihasilkannya memiliki karakter keindahan dan kedekatan dengan alam. Sebuah parade hasil intelektual yang patut mendapat apresiasi tinggi,” katanya.

 

Pihaknya berharap Pameran dan Pagelaran Budaya yang berlangsung selama tiga hari ini, dapat menambah pengetahuan masyarakat DKI Jakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya, tentang apa dan bagaimana adat, seni dan budaya Tanah Gayo.

 

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar mengajak seluruh masyarakat Gayo yang ada di Jabodetabek untuk menyaksikan pagelaran acara tersebut.

 

"Mari kita bersama-sama bersilaturahmi, bersilaturahim, malam ini dalam rangkaian acara juga menonton didong," katanya.

 

Ia juga menyebutkan seni dan budaya tersebut merupakan ekspresi masyarakat Gayo dalam menjaga dan merawat warisan leluhur. 

 

“Mulai dari seni dan budaya para leluhur kita memberikan pesan-pesan untuk menjalani kehidupan yang berhubungan dengan tuhan, berhubungan dengan manusia dan dengan alam," katanya.

 

Sementara itu Ketua Umum Ikatan Musara Gayo Jabodetabek, Ahyar Gayo menyampaikan terima kasih kepada seluruh lapisan yang telah berkontribusi, sehingga terselenggaranya acara pagelaran seni dan budaya Gayo tersebut.

 

Pewarta: M Ifdhal

Editor : M Ifdhal


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2022