Pengamat Wisata Aceh Aliamin menilai bahwa kemudahan akses terhadap fasilitas pelayanan publik sangat penting untuk menggaet wisatawan berkunjung ke tanah rencong.

"Misalnya, seperti kepastian transportasi kapal dari Sabang ke Banda Aceh, perlu kelancaran yang memudahkan wisatawan," kata Aliamin, di Banda Aceh, Rabu.

Selain itu, kata Aliamin, kebersihan fasilitas publik seperti toilet dan tempat shalat juga sangat penting untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan.

Baca juga: Pekan Raya Cahaya Aceh dikunjungi 6.780 orang, bukukan transaksi Rp1,4 miliar

Namun, hal itu selama ini masih sulit dijaga. Bahkan hampir kebanyakan fasilitas publik di Aceh masih kurang bersih.

Aliamin mengusulkan agar Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota untuk rutin menyelenggarakan kegiatan yang dapat diandalkan untuk menggaet wisatawan.

Ia mencontohkan, seperti yang dilaksanakan di Bali, mereka tidak hanya menawarkan keindahan objek wisata. Tetapi, juga rutin mengadakan ritual keagamaan yang akhirnya menjadi tontonan para pelancong. 

"Jadi, semakin banyak event maka akan semakin banyak pula orang yang akan berkunjung," ujarnya.

Dirinya menyarankan, pemerintah juga sudah harus mendirikan hotel berbintang di daerah Kota Sabang yang selama ini menjadi tujuan wisata pelancong lokal maupun mancanegara. 

Baca juga: Sabang upayakan revitalisasi situs karantina haji jadi wisata heritage

Kata dia, kalangan yang masuk ke Kota Sabang itu bukan hanya masyarakat kelas menengah ke bawah, melainkan banyak dari menengah ke atas, sehingga perlu didirikan sebuah hotel yang representatif.

"Di Sabang tidak ada hotel berbintang, memang sudah ada homestay sebagai penyangga hotel dan juga resort. Namun, tetap perlu hotel yang menjadi representatif di kota tersebut," katanya. 

Dalam kesempatan ini, Aliamin juga menyampaikan bahwa wisatawan asal Malaysia merupakan pelancong yang paling banyak menghabiskan uang dibandingkan dari negara lain ke Aceh.

"Diantara turis-turis yang masuk ke Aceh, itu yang paling royal dan paling banyak menggunakan uangnya ialah dari Malaysia, bukan turis mancanegara lain," kata Aliamin. 

Turis mancanegara lainnya, lanjut Aliamin, biasanya tidak menginap di homestay, tetapi mereka sudah membawa kemah sendiri dan sangat sedikit membelanjakan uangnya.

Baca juga: Disbudpar Aceh akan latih pemilik "guest house" di Sabang

"Walaupun secara kuantitas lebih banyak turis dari Eropa, tetapi dari segi ekonomi. Turis dari Malaysia sangat menjanjikan. Mereka royal," ujarnya.

Karena itu, ia menyarankan kepada Pemerintah Aceh agar menargetkan kuantitas wisatawan asal Malaysia untuk dapat berkunjung ke Aceh. 

"Boleh kita kampanyekan event pariwisata ke mancanegara, tetapi konsentrasi kita lebih baik kepada wisatawan dari Malaysia," demikian Aliamin. 

Baca juga: Balap sepeda Tour de Aceh diikuti atlet mancanegara, dukung sport tourism

 

Pewarta: Nurul Hasanah

Editor : Febrianto Budi Anggoro


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2023