Pemerintah Daerah Aceh bersama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) terus menyalurkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke seluruh wilayah Tanah Rencong itu, dalam upaya menekan harga komoditas beras yang sedang tinggi.

“Beras SPHP ini sudah mulai disalurkan oleh Bulog sejak Januari 2023, dan masih terus berlanjut untuk stabilisasi harga beras yang sedang tinggi,” kata Plt Dinas Pangan Aceh Surya Rayendra di Banda Aceh, Kamis.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia hingga Kamis (5/10), harga beras di Aceh meliputi beras kualitas bawah satu Rp13.300 per kilogram, beras kualitas bawah dua Rp13.100 per kilogram, berkas kualitas medium satu Rp13.400 per kilogram.

Baca juga: Beras jadi penyumbang tertinggi inflasi di Aceh

Selanjutnya, beras kualitas medium dua Rp13.450 per kilogram, sedangkan beras kualitas super dua Rp14.100 per kilogram dan beras kualitas super satu Rp14.400 per kilogram.

Ia mengatakan, sejak terjadi kenaikan harga beras, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Bulog Wilayah Aceh untuk menyalurkan beras program SPHP. Bulog secara langsung menyalurkan beras tersebut ke pedagang pengecer.
 


Sedangkan Dinas Pangan, lanjut dia, terus memantau perkembangan harga dan persediaan beras di seluruh penjuru Aceh, kemudian menyuplai data tersebut kepada Bulog agar rantai pasokan komoditi bahan pokok utama di Aceh tersebut tak terputus di tengah masyarakat.

“Dimana daerah-daerah yang kosong, maka kita sampaikan ke Bulog untuk memasok kesana supaya jangan terputus persediaan beras di pasaran,” katanya.

Menurut Surya, kehadiran beras program SPHP tersebut sangat membantu menekan dan menjaga kestabilan harga komoditas beras di tengah masyarakat.

“Jadi beras SPHP ini bisa mengimbangi naiknya harga beras sehingga masyarakat punya pilihan beli beras yang murah tapi tidak murahan, beras Bulog ini kualitas bagus,” ujarnya.

Ia menilai kenaikan harga beras di Aceh disebabkan berkurangnya produksi gabah. Hal ini dipicu beberapa faktor, mulai dari bencana banjir yang melanda Aceh pada awal 2023 lalu serta pengaruh fenomena perubahan iklim, sehingga lahan sawah tidak bisa manfaatkan secara maksimal oleh petani.

“Secara produksi kita menurun memang tahun ini, karena pengaruh cuaca tadi. Beras (konsumsi) kita juga tidak semua produksi kita, produksi beras kita juga banyak mengalir keluar (daerah) sehingga banyak mempengaruhi stok di daerah,” ujarnya.

Baca juga: BI prediksi kenaikan harga beras picu inflasi pada September di Aceh

Pewarta: Khalis Surry

Editor : Febrianto Budi Anggoro


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2023