Fotografer dokumenter asal Aceh Riska Munawarah yang baru saja menerima penghargaan dari Prince Claus Seed Awards 2023 membagikan kiat-kiat mendapatkan pendanaan (funding) fotografi bersama ANTARA Biro Aceh, Sabtu (4/11).

Fotografer perempuan yang telah menggeluti dunia fotografi dokumenter sejak 2016 itu mengatakan ada banyak sumber funding fotografi yang tersedia baik nasional maupun internasional untuk membiayai ide project fotografi. Bahkan, beberapa funding juga memberikan mentoring selain pendanaan.

Pada dasarnya, pendanaan tersebut bisa didapatkan apabila fotografer menunjukkan minat dan keseriusan dalam pekerjaannya. Selain itu, Riska menjelaskan ada dua hal yang menjadi kunci untuk mendapatkan funding fotografi. 

Baca juga: Pemkab Aceh Barat dukung fotografer memiliki sertifikat profesi resmi

Portofolio foto, kata Riska, menjadi modal awal agar lembaga donor melirik dan memilih memberikan pendanaan kepada fotografer. Melalui portofolio, lembaga donor bisa melihat kemampuan fotografer serta karya-karya yang telah dikerjakan.

"Fotografer wajib memiliki portofolio, bentuknya itu bisa dalam bentuk web, media sosial, atau bentuk lainnya. Tapi, lebih bagus kalau karya foto kita atau portofolio dimasukkan dalam situs web," kata saat berbagi cerita bersama generasi muda tentang fotografi di acara Sharing Session Cara Mendapatkan Funding dengan ide foto.
 

Untuk itu, ia menekankan agar fotografer memperkaya portofolio foto dengan banyak menghasilkan karya.

"Portofolio foto itu harus terus dikembangkan dengan cara rajin memotret dan menggali isu yang menarik untuk diceritakan lewat diskusi bersama teman atau masyarakat," katanya. 

Riska sendiri menyampaikan masuk ke dalam 100 fotografer pilihan Prince Clause Awards 2023 dari 60 negara berbeda karena portofolio fotonya yang menarik lembaga donor dan berkesempatan melanjutkan project foto personal "This Is Us".

Ide foto unik dan lokal 
Selain portofolio foto, ide foto juga menjadi penilaian yang sangat berpengaruh bagi pihak pemberi funding fotografi. 

Menurut Riska, cerita-cerita lokal dari daerah mempunyai nilai jual yang tinggi dibandingkan cerita yang sudah diketahui oleh banyak khalayak umum. Cerita yang bermuatan unsur lokal lebih menarik karena akan menjadi pengetahuan baru bagi orang lain di luar sana. 

"Tidak banyak yang tahu cerita-cerita di daerah sehingga fotografer yang tinggal di daerahnya lebih tahu dan memiliki peluang untuk menceritakannya dan ini biasanya selalu dicari oleh pihak penyelenggara funding," katanya. 

Sepanjang kariernya sebagai fotografer dokumenter dan cerita, Riska juga selalu menawarkan cerita-cerita yang sarat dengan isu lokal. Beberapa project fotonya banyak mengisahkan tentang potret kebudayaan di Aceh seperti hukum cambuk, penerapan syariat Islam, hingga dampak perubahan iklim terhadap petani kopi di Gayo. 

Portofolio dan ide cerita ini disebutkan Riska menjadi hal yang harus dimiliki oleh fotografer dokumenter karena dua hal itulah yang juga akan diminta oleh penyelenggara funding. 

Selain itu, ia juga menyampaikan fotografer juga perlu berjejaring untuk memperkaya ide dan pengalaman. 
 
Dalam kesempatan ini, ia juga menyampaikan ada beberapa hal yang membedakan fotografer dokumenter dengan fotografer komersial antara lain riset.

"Fotografer dokumenter harus terlebih dahulu melakukan riset. Ini tantangan yang sangat menyenangkan karena bisa menambah wawasan dari narasumber sekaligus memperkaya pengalaman (fotografer)," ujar Riska.

Selain itu, ia menyampaikan fotografer dokumenter juga harus berjejaring untuk memperkaya pengalaman dan sudut pandang sehingga dapat menghasilkan foto terbaik. 

"Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah ide, konsep, dan pencahayaan sehingga foto terbaik yang dihasilkan nantinya," pungkas Riska.

Baca juga: Kiat berbisnis fotografi dan videografi pernikahan
 

Pewarta: Nurul Hasanah

Editor : Febrianto Budi Anggoro


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2023