Dosen Universitas Syiah Kuala (USK) luncurkan program eco-friendly soap production atau pelatihan produksi sabun ramah lingkungan di SMP Negeri 6 Banda Aceh. 

Ketua Tim Program, Latifah Hanum, di Banda Aceh, Jumat, menjelaskan bahwa program eco-friendly soap production adalah proses mengubah limbah organik menjadi eco-enzyme untuk sabun ramah lingkungan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, keterampilan teknis, dan jiwa kewirausahaan siswa di sekolah percontohan Kota Banda Aceh. 

“Program ini merupakan pengabdian kepada masyarakat skema pemberdayaan masyarakat yang didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek),” katanya.

Program ini sendiri dilaksanakan oleh tiga dosen USK, diketuai oleh Latifah Hanum bersama dua orang anggotanya yakni M. Ridha Siregar dan Erlindawati.

Baca: Mahasiswa ciptakan sabun mandi organik

Latifah menjelaskan lebih lanjut bahwa secara ilmiah eco-enzyme dihasilkan melalui fermentasi alami oleh bahan organik (kulit buah, sisa makanan, dedaunan, limbah dapur) dan gula yang menghasilkan senyawa seperti asam asetat serta enzim (lipase, tripsin, amilase) yang memiliki aktivitas antibakteri.

Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembersih, antiseptik, maupun sebagai bahan aditif pupuk organik sehingga memberi nilai lingkungan sekaligus ekonomi. 

“Kami mendesain program ini agar siswa terlibat langsung baik dari pengumpulan bahan, proses fermentasi, hingga pembuatan dan pengemasan sabun. Pendekatan partisipatif ini diharapkan menumbuhkan kesadaran lingkungan sekaligus keterampilan kewirausahaan sejak dini,” katanya.

Dia mengatakan, rangkaian kegiatan dalam program ini dirancang komprehensif mulai dari koordinasi dan persiapan bersama pihak sekolah, sosialisasi manfaat eco-enzyme, produksi partisipatif di lokasi sekolah menggunakan bahan organik, pelatihan teknis pembuatan sabun ramah lingkungan, workshop pemasaran dan branding, serta monitoring dan evaluasi untuk menjamin keberlanjutan program. 

Baca: Ciptakan ketangguhan ekonomi ditengah pandemi, Klinik Vinca Rosea latih ibu-ibu cara membuat sabun


Anggota tim program, M Ridha Siregar, menambahkan bahwa pihaknya juga menyiapkan modul kewirausahaan untuk menunjang keberhasilan program ini kepada siswa agar dapat diimplementasikan secara mandiri maupun berkelompok. 

“Modul kewirausahaan akan memberi siswa pengetahuan praktis tentang pencatatan produksi, strategi pemasaran sederhana, dan branding berbasis sekolah,” katanya. 

Anggota tim lainnya, Erlindawati, berharap program ini mampu meningkatkan kesadaran civitas sekolah terhadap pengelolaan sampah organik, terbentuknya keterampilan teknis dan kewirausahaan di kalangan siswa, pengurangan limbah organik di lingkungan sekolah, serta terciptanya unit usaha kecil yang dapat menopang kegiatan ekstrakurikuler atau program sekolah. 

“Tim pengabdian juga menyiapkan mekanisme monitoring dan evaluasi untuk mengukur keberlanjutan dan potensi skala usaha ke depan,” katanya.

Baca: Unsam edukasi warga membuat sabun cair dari sereh dan arang

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pengabdian di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK, Sulastri, menegaskan bahwa pemanfaatan eco-enzyme merupakan pendekatan sederhana, tetapi efektif untuk mengolah limbah organik menjadi produk bernilai tambah yang ramah lingkungan. 

“Metode fermentasi ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang praktis bagi sekolah untuk mengembangkan usaha kecil berbasis komunitas,” katanya. 

Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Banda Aceh, Syarifah Narghis, mengapresiasi program ini karena tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga praktik nyata yang bermanfaat. Ia pun menyatakan akan mendukung pelaksanaan program dan berharap inisiatif ini menjadi model pembelajaran lingkungan terapan bagi seluruh civitas sekolah. 

“Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi model pembelajaran lingkungan terapan yang dapat ditiru oleh sekolah lain di Banda Aceh,” katanya. 

 

Pewarta: Nurul Hasanah

Editor : M.Haris Setiady Agus


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2025