Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh menyatakan siap memberikan pendampingan kepada ASN korban kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kantor.
“Kami telah menginstruksikan kepada Penyuluh KB atau Tim Pendampingan Keluarga, agar juga dapat mendampingi bagi perempuan yang melaporkan kekerasan dan pelecehan seksual,” kata Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Aceh Safrina Salim di Banda Aceh, Senin.
Pernyataan itu disampaikan di sela-sela sosialisasi dan internalisasi guna mewujudkan Zona Integritas Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan BKKBN Perwakilan Aceh di ruang serba guna Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh.
Ia menjelaskan BKKBN memiliki layanan khusus bagi setiap perempuan di lingkungan kantor tersebut yang akan melaporkan adanya tindak kekerasan dan pelecehan guna menjamin privasi para pelapor.
Baca: Puluhan peserta sekolah lansia di Aceh Besar belajar anyaman
“Artinya, para pelapor tidak perlu takut untuk melapor karena, kami siap memberikan pendampingan dan menjaga kerahasiaan pelapor,” katanya.
Ia mengatakan BKKBN memiliki sebanyak 800 PLKB dan 22.500 tim pendamping keluarga yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh yang siap memberikan pendampingan.
Menurut dia untuk meningkatkan kesadaran untuk melaporkan berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami perempuan yakni melalui sosialisasi dan meningkatkan pemahaman kepada seluruh perempuan yang bekerja di instansi tersebut terhadap pentingnya penanganan agar pelaku dapat ditindak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Sosialisasi dan peningkatan kesadaran dan peran serta semua pihak dalam pencegahan dan juga penindakan merupakan bagian untuk menekan angka kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan,” katanya.
Ia menambahkan kegiatan WBBM merupakan bagian dari komitmen untuk mewujudkan birokrasi yang aman, humanis, berintegritas dan bebas dari segala bentuk eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan.
“Ketika terjadi pelanggaran, bukan hanya korban yang terluka, tetapi juga wibawa lembaga dan kepercayaan publik ikut runtuh. Dalam budaya Aceh, kepercayaan adalah pondasi bagi keharmonisan sosial,” katanya.BKKBN Aceh siap dampingi anak korban kekerasan dan pelecehan seksual
Pihaknya berkomitmen mewujudkan lingkungan kerja yang menghormati martabat setiap manusia, sesuai dengan nilai adat, syariat, dan prinsip pelayanan publik yang berkeadaban.
Sekda Aceh M Nasir mengatakan eksploitasi, kekerasan seksual, dan pelecehan bukan hanya pelanggaran etika, tetapi ancaman serius terhadap rasa aman, produktivitas, dan integritas lembaga.
“Pemerintah Aceh terus mendorong penguatan budaya kerja yang profesional, transparan, serta bebas dari penyalahgunaan wewenang,” kata M Nasir dalam pidato tertulis dibacakan Plt Kadinkes Aceh, Ferdiyus.
Ia menjelaskan upaya mencapai predikat WBK dan WBBM bukan sekadar memenuhi indikator penilaian, melainkan memastikan bahwa pelayanan publik berjalan secara bermartabat, berempati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Menurut dia setiap ASN memegang peran strategis sebagai garda terdepan yang menentukan wajah birokrasi di mata masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman bersama, sekaligus menegaskan komitmen bahwa lingkungan kerja pemerintah harus menjadi ruang yang aman bagi semua orang, tanpa diskriminasi dan tanpa bentuk kekerasan apa pun,” katanya.
Baca: BKKBN Aceh gencar program gerakan orang tua asuh stunting
Editor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2025