Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur mencatat sebanyak 1.815 warga terdampak bencana di kabupaten itu dilaporkan sakit pascabanjir karena kondisi lingkungan berlumpur kering dan berdebu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Timur Afifullah di Aceh Timur, Rabu, mengatakan selain sakit, sebanyak 843 warga lainnya mengalami luka-luka, baik akibat terseret arus, terjatuh saat proses evakuasi, maupun terkena benda tajam ketika membersihkan sisa material banjir.
"Ada sebanyak 1.815 warga Aceh Timur sakit pascabanjir dan sebanyak 843 warga lainnya mengalami luka-luka akibat dampak banjir di Kabupaten Aceh Timur," kata Afifullah.
Ia mengatakan kondisi di sejumlah kawasan pascabanjir hingga saat ini dipenuhi debu cukup tebal berasal dari lumpur mengering dan aktivitas pembersihan jalan serta permukiman warga.
Debu beterbangan tersebut dikhawatirkan memicu gangguan pernapasan, terutama ISPA, batuk, dan iritasi mata, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya, kata Afifullah.
Selain debu, lingkungan yang masih kotor, lembap, dan dipenuhi sisa lumpur menjadi faktor utama meningkatnya penyakit kulit, diare, serta infeksi lainnya.
Baca: Dinkes: 41 puskesmas di Aceh Timur rusak akibat banjir
"Keterbatasan air bersih dan fasilitas sanitasi yang kurang layak di beberapa wilayah terdampak turut memperbesar risiko penularan penyakit antarwarga," katanya.
Berdasarkan data, sebanyak 7.964 jiwa dari 2.417 keluarga masih mengungsi di 24 titik pengungsian. Kepadatan pengungsian, minimnya sarana mandi dan sanitasi, serta paparan debu dan udara tidak sehat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Tak hanya pengungsi, warga yang memilih bertahan di rumah pun menghadapi risiko serupa. Banyak rumah masih tertimbun lumpur dan proses pembersihan dilakukan secara manual tanpa alat pelindung diri memadai.
"Hal ini membuat warga rentan mengalami luka, infeksi, dan gangguan pernapasan," kata Afifullah.
Ia mengatakan petugas kesehatan bersama relawan terus memberikan pelayanan medis, pemeriksaan kesehatan, serta pemantauan di wilayah terdampak dan lokasi pengungsian.
Edukasi terkait kebersihan lingkungan, penggunaan masker saat beraktivitas di area berdebu, serta pembagian obat-obatan menjadi langkah penting untuk menekan angka warga sakit.
"Pemerintah daerah bersama unsur kecamatan, kepala desa, dan masyarakat terus mendata terkait dampak kesehatan pascabanjir. Data tersebut menjadi dasar penanganan lanjutan agar ancaman penyakit pascabanjir dapat dikendalikan," kata Afifullah.
Baca: Brimob pasok air bersih untuk warga terdampak bencana di Aceh Timur
Editor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2025