Banda Aceh (ANTARA) - Usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Aceh Besar mengembangkan tembakau asli dari daerah itu yang biasa disebut tembakau serong atau siring menjadi produk cerutu.

"Kami mengembangkan tembakau serong untuk produk cerutu karena memiliki aroma yang berbeda serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi jika dijadikan rokok," kata Nazarul Khairi, pelaku UMKM Cerutu Bakong Aceh, di Aceh Besar, Selasa.

Nazarul Khairi yang akrab disapa Aie Bakong Aceh itu menyebutkan pengembangan usaha cerutu mulai dirintisnya sejak awal 2026. Sedangkan pengembangan tembakau serong atau siring sudah dirintis sejak 2023.


Baca juga: Mantan kadis Bener Meriah divonis dua tahun penjara terkait korupsi tembakau

Ia menyebutkan tembakau tersebut tumbuh pinggiran sungai Krueng Aceh di kawasan Montasik, Kabupaten Aceh Besar. Sebelumnya, tembakau jenis ini mulai ditinggalkan karena nilai jual murah dan hanya dijadikan tembakau rokok.

"Jika ditanam di tempat lain, aroma tembakau ini berbeda, tidak sebagus yang ditanam di bantaran Krueng Aceh, sehingga jarang dikembang di tempat lain," katanya.

Untuk dijadikan cerutu, kata dia, tanaman tembakau ditanam secara organik, menggunakan kompos dari kotoran sapi. Perawatan tanaman apabila ada ulat daun, tidak menggunakan pembasmi hama, tetapi mengambilnya dengan tangan.

"Perlakuan tembakau ini khusus karena untuk cerutu. Masa tanam satu tahun sekali dengan durasi panen tiga bulan. Panen pada saat kemarau, biasanya pada Agustus hingga September," katanya.

Nazarul Khairi menyebutkan setelah panen tidak serta merta diolah menjadi cerutu. Penanganan daun tembakau membutuhkan proses penjemuran dan diangin-anginkan secara berulang hingga masuk proses fermentasi.

Proses fermentasi tersebut, kata dia, membutuhkan waktu panjang, minimal tiga tahun. Semakin lama waktunya, semakin berkualitas cerutu yang dihasilkan dan ini banyak dicari penikmat cerutu.

"Kami sudah melakukan proses fermentasi sejak 2023. Pada tahun itu, ada 4.000 batang tembakau yang kami fermentasi. Kemudian pada 2024 ada lebih dari satu ton dan 2025 sebanyak 800 kilogram daun tembakau," katanya.

Nazarul Khairi mengatakan tembakau yang difermentasi pada 2023, mulai dijadikan cerutu. Namun, cerutu yang dihasilkan belum dipasarkan secara luas karena masih dalam pengurusan izin.

"Sementara ini, cerutu yang kami hasilkan hanya untuk penikmat yang datang ke tempat kami. Jika semua perizinannya selesai, cerutu ini tentu kami pasarkan secara luas," katanya.

Nazarul Khairi bercita-cita di kawasan Montasik tersebut menjadi pusat industri rumah tangga cerutu dari tembakau Aceh. Sebab, selama ini di daerah tersebut merupakan sentra produksi tembakau di Kabupaten Aceh Besar.

"Kami berharap daerah ini menjadi kawasan sentra produksi cerutu dari tembakau Aceh. Nilai ekonomi tembakau ini lebih tinggi ketimbang tembakau yang dihasilkan petani selama ini untuk rokok," kata Nazarul Khairi.


Baca juga: Jaksa tuntut mantan Kadis Bener Meriah 2,5 tahun penjara terkait korupsi tembakau



Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026