Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Perjuangan Kabupaten Nagan Raya, Aceh, menyatakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di daerah ini membaik sejak satu tahun belakangan ini di angka 2.800 hingga Rp3.000 per kg.

"Membaiknya harga ini tidak terlepas dari peran aktif dan ketegasan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya dalam mengawal kebijakan harga di tingkat perusahaan," kata Ketua Apkasindo Perjuangan Kabupaten Nagan Raya Teuku Jamalul Alamuddin di Nagan Raya, Jumat.

Ia mengatakan sebelumnya harga kelapa sawit petani di Kabupaten Nagan Raya sering kali tidak stabil, terutama karena kurangnya sinkronisasi antara aspirasi petani dengan kebijakan pemerintah terdahulu. 

Namun, di bawah kepemimpinan saat ini Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan, situasi mulai berubah ke arah yang lebih baik.

Teuku Jamalul Alamuddin mengatakan sejak satu tahun ini harga jual TBS kelapa sawit di Nagan Raya relatif stabil dan sangat menguntungkan petani karena harga jual sesuai dengan kondisi pasar terkini.

Apkasindo Perjuangan juga mengapresiasi langkah Bupati Nagan Raya yang telah memanggil dan memberi peringatan keras kepada seluruh perusahaan sawit di daerah tersebut. 

Baca: Harga TBS Sawit di Abdya menguat mencapai Rp2.830 per kilogram

Perusahaan diwajibkan untuk mematuhi aturan harga yang telah ditetapkan pemerintah dan dilarang menurunkan harga secara sepihak yang dapat merugikan petani kecil.

"Sekarang sudah agak membaik karena ikut andil pemerintah, apalagi ketegasan Pak Bupati. Semua perusahaan sudah dipanggil dan diwanti-wanti supaya mengikuti aturan," katanya menambahkan.

Pihaknya juga menyambut baik pembentukan tim evaluasi lapangan terhadap harga kelapa sawit petani, guna memastikan harga di lapangan tetap terjaga sesuai dengan Instruksi Gubernur Aceh.

Apkasindo Perjuangan Kabupaten Nagan Raya berencana membentuk tim khusus. Tim ini nantinya akan turun langsung ke lapangan untuk mengevaluasi realitas harga sawit dan melaporkan hasilnya kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan kebijakan.

"Kami akan membuat tim untuk turun ke lapangan mengevaluasi hasil sawit, nanti kita laporkan kepada Pemda supaya ada keseimbangan," tambahnya.

Teuku Jamalul Alamuddin mengatakan stabilitas harga sawit adalah isu krusial karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di Nagan Raya.

Pihaknya berharap kerja sama yang erat antara asosiasi petani dan pemerintah daerah dapat terus terjalin demi melindungi hak-hak petani kecil dari oknum-oknum yang mencoba mengakali harga.

Baca: Tiga perusahaan sawit di Aceh sesuaikan program CSR dengan potensi desa

Pewarta: Teuku Dedi Iskandar

Editor : M.Haris Setiady Agus


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2026