Banda Aceh (Antaranews Aceh) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melepasliarkan empat primata yang sebelumnya dipelihara masyarakat ke kawasan hutan di Kabupaten Aceh Jaya.

Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Kamis, mengatakan, empat primata yang dilepasliarkan tersebut merupakan satwa jenis monyet tidak berekor, berjenis kelamin jantan.

"Primata yang dilepasliarkan tersebut yakni dua ungko lar atau hylobates lar dan dua siamang dengan nama latin symphalangus syndactylus," kata Sapto Aji Prabowo.

Sapto mengatakan, dua ungko lar tersebut disita dari warga di Kabupaten Pidie. Kemudian, satwa tersebut dibawa dan dirawat di BKSDA Aceh hampir empat bulan lamanya.

Begitu juga dengan dua siamang, kata dia, diamankan dari warga Banda Aceh. Dua satwa dilindungi tersebut sudah dirawat dan dilatih petugas BKSDA selama tiga minggu lamanya.

"Dalam masa perawatan, empat primata itu diberikan pakan berupa buah-buahan dan dedaunan yang biasa di hutan, sehingga ketika dilepasliarkan, satwa tersebut bisa beradaptasi di habitatnya," ujar Sapto Aji.

Sebelum dilepasliarkan, tim dokter hewan BKSDA sudah mendiagnosa bahwa ke empat primata tersebut memiliki sifat liar, sehingga bisa hidup di kawasan hutan yang merupakan habitat aslinya.

"Ke empat primata tersebut bersuara nyaring, sehat, dan tidak cacat, sehingga dinilai layak serta mampu dengan mudah beradaptasi dan mencari makan di hutan," kata Sapto Aji Prabowo.

Menyangkut lokasi pelepasliaran, Sapto Aji menyebutkan, pihaknya terlebih dahulu melakukan survei. Lokasi yang dipilih memiliki satwa sejenis, sehingga primata yang dilepasliarkan bisa beradaptasi dengan mudah.

"Kami juga menggandeng mitra dalam pelepasliaran ini. Satwa yang dilepaskan tersebut juga dipantau guna memastikan kondisinya, apakah bisa beradaptasi atau tidak," kata Sapto Aji Prabowo. 

Pewarta: M Haris SA

Uploader : Salahuddin Wahid


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2018