Lhokseumawe, 29/11 (Antaraaceh) - Ribuan warga Gampong Pusong Lama, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, mendesak pemilik cafe agar segera membongkar cafe di sepanjang  pinggiran waduk, karena telah dijadikan tempat maksiat.
Ribuan warga yang mendatangi waduk di Desa Pusong, Lhokseumawe, Jumat sore memberi waktu dua hari kepada pemilik bangunan cafe untuk membongkarnya sendiri.
Massa yang terdiri dari berbagai kalangan usia dan kaum wanita itu, memulai aksinya pada pukul 17.00 Wib. Setelah berkumpul di meunasah (surau) gampong setempat, baru mereka menuju Waduk Pusong.
Iring-iringan massa yang memadati jalan waduk tersebut, terus bergerak disepanjang bangunan cafe dan meminta kepada pemilik cafe agar tidak lagi melanjutkan aktivitas mereka di tempat tersebut.
Karena menurut warga, keberadaan cafe di sepanjang jalan waduk telah mencemari desa mereka dengan aktivitas yang dianggap tidak Islami. Bahkan diduga ada transakasi narkoba serta pelecehan seksual.
Oleh karena itu, warga meminta untuk dihentikan dan membongkar bangunan di sepanjang jalan waduk tersebut.
Salah seorang tokoh masyarakat Gampong Pusong Tgk Mukhtar dalam orasinya mengatakan, bahwa pihak warga Gampong Pusong Lama, meminta kepada pemilik atau pengelola cafe dikawasan tersebut untuk tidak melakukan aktivitasnya. Serta memberi waktu dua hari kepada pemilik bangunan untuk membongkarnya sendiri.
Apabila tuntutan warga tersebut tidak direspon, maka warga akan kembali turun dan membongkarnya sendiri secara paksa. Warga juga tak ingin mengenal siapa beking dibelakang para pemilik bangunan cafe dikawasan tersebut tanpa kecualisemua harus dibongkar, ancam warga.
Setelah menyampaikan tuntutannya di kawasan waduk, warga bergerak ke kawasan pasar buah atau sekitar 500 Meter dari lokasi waduk. Di kawasan pasar buah, warga juga meminta kepada pemilik tempat karoek untuk tidak lagi melakukan aktivitas usahanya. Serta melaporkan setiap ada kegiatan usaha kepada aparatur desa gampong Pusong Lama.
Dalam aksi yang dilakukan oleh warga itu, tidak ada tindakan anarkis. Begitu juga dengan pemilik warung atau cafe dikawasan dimaksud, juga memilih diam.


Editor : Antara Aceh

COPYRIGHT © ANTARA 2026