“Aplikasi ini upaya pencegahan stunting dari hulu. Aplikasi ingin ini ingin melihat kesiapan calon pengantin, apakah siap secara kesehatan untuk membina rumah tangga ke depan,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh Sahidal Kastri di Banda Aceh, Selasa.
BKKBN telah meluncurkan aplikasi Elsimil pada awal September 2021, di mana sebanyak 14 provinsi di Indonesia, termasuk Aceh, telah melakukan uji coba aplikasi yang menjadi inovasi BKKBN dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting dari hulu itu.
Elsimil merupakan aplikasi edukasi dan sistem elektronik siap nikah dan siap hamil yang menjadi prioritas program BKKBN. Aplikasi ini sebagai bentuk skrining dan edukasi kesehatan reproduksi serta perbaikan gizi perempuan calon pengantin dan promosi perilaku hidup sehat.
Rencananya, kata Sahidal, aplikasi Elsimil mulai diterapkan di seluruh daerah pada awal Januari 2022. Oleh karenanya BKKBN Aceh juga telah membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk seluruh desa, yang terdiri dari bidan desa, tim penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) desa dan kader keluarga berencana (KB) desa.
“Tugas TPK ini di setiap gampong adalah melakukan skrining calon pengantin, memantau perkembangan ibu hamil dan memantau ibu melahirkan yang memiliki anak balita,” katanya.
Saat ini, BKKBN telah membentuk 7.368 TPK di seluruh Aceh. Sedangkan total desa di provinsi berjulukan Tanah Rencong itu sebanyak 6.497 desa, sehingga nantinya akan ada desa yang memiliki dua TPK.
Harapannya, kata dia, masyarakat memahami aplikasi Elsimil yang dinilai sangat bermanfaat bagi kalangan muda untuk menatap masa depan dalam upaya mencegah dan menurunkan angka stunting di Aceh.
“Kalau aplikasi ini sudah diresmikan oleh presiden nanti pada awal 2022, maka masyarakat harus memahami aplikasi ini. Aplikasi ini sangat bermanfaat bagi anak muda kita untuk menatap masa depan lebih baik,” katanya.
Apalagi saat ini, kata Sahidal, angka stunting di bumi Serambi Mekkah itu tergolong tinggi, yakni mencapai 34,18 persen.
Angka stunting itu mengantarkan Aceh di posisi peringkat lima secara nasional, setelah Gorontalo 34,89 persen, Nusa Tenggara Barat 37,85 persen, Sulawesi Barat 40,38 persen dan Nusa Tenggara Timur 43,82 persen di peringat pertama nasional.
“Kalau angka stunting nasional 27,67 persen. Sedangkan kita diurutan kelima secara nasional, cukup tinggi, dan Presiden Joko Widodo mengharapkan penurunan stunting ini menjadi 14 persen di tahun 2024, maka ini upaya yang kita lakukan,” kata Sahidal.
Pewarta: Khalis SurryEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.