Meulaboh (ANTARA Aceh) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh terus berupaya memperkuat peranan Tim Reaksi Cepat (TRC) yang sudah terbentuk beberapa tahun silam.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat Saiful AB di Meulaboh, Jum'at mengatakan TRC berperan sebagai garda terdepan disetiap kecamatan maupun desa memberikan petunjuk kepada masyarakat disaat bencana alam datang tiba-tiba.

"Pelatihan tetap kita lakukan, sekarang juga sedang berlangsung untuk tim reaksi cepat disetiap kecamatan, di Kaway XVI dan kemarinnya dibuat di wilayah Woyla Induk, untuk mengigatkan kembali prosedur tetap (protap) yang sudah ada," katanya.

Selain memberi kemantapan TRC, jalur evakuasi masyarakat yang sudah terpasang sebelumnya semua titik yang telah ditentukan masih ada, melalui pembelajaran terhadap protap ini diharapkan dapat menekan tinggi resiko diterima masyarakat.

Kabupaten Aceh Barat yang memiliki 12 kecamatan dengan 322 desa terletak diwilayah pesisir barat selatan Aceh, selain sangat rawan terhadap bencana tsunami, sekitar 60 persen kawasan itu juga dinyatakan rawan bencana alam banjir.

Karena itu Pemkab Aceh Barat sangat konsen terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat menghadapi bencana, mengigat pada gempa bumi disusul gelombang tsunami 2004 cukup banyak korban jiwa masyarakat kawasan itu.

"Pengalaman 2004, saat terjadi gempa warga meliha air laut surut mengutip ikan mengelepar dilaut, tidak tahu disana bakal terjadi air yang sangat besar, makanya korban kita begitu banyak karena masih awam waktu itu," imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan, peran semua pihak untuk menekan resiko bencana harus diperkuat melalui koordinasi yang efektif, bertindak cepat saat bencana datang sebagaimana petunjuk dalam prosedur tetap diterbitkan melalui kearifan lokal yakni SK bupati Aceh Barat.

Pemkab Aceh Barat dalam hal ini akan terus berupaya memberikan petunjuk teknis melalui pelatihan untuk mempersiapkan masyarakat sebelum maupun ketika bencana datang dari resiko bencana alam yang sering melanda kawasan itu.

Kata Saiful AB, satu daerah pulau terluar di Aceh yakni Kabupaten Simeulue menurut dia dapat dijadikan sebagai contoh, masyarakatnya lebih siap menghadapi bencana alam khusunya gempa disusul gelombang tsunami.

"Mereka tahu berada di pulau terluar, sejak masa nenek moyangnya sampai saat ini mereka punya satu petunjuk adat yang dinamakan 'Smong' (tsunami/tanda alam). Bila petanda itu sudah datang mereka lari ke pegunungan atau dataran tinggi," katanya menambahkan.



Pewarta: Pewarta : Anwar
: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026