Subulussalam (ANTARA Aceh) - Balai Konservasi Sumberdaya Daya Alam (BKSDA) Aceh menurunkan tim ke Kota Subulussalam untuk meninjau lokasi kebun warga yang menjadi amukan gajah liar di Desa Subulussalam Timur, Kecamatan Simpang Kiri.
     
"Ada dua orang tim BKSDA Aceh sudah kita turunkan ke Subulussalam, mereka didampingi oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat untuk mengecek jejak gajah yang sering melintas dari Desa Subulussalam Timur," kata Kepala Seksi Pantai Barat Selatan BKSDA Aceh, Handoko yang dihubungi dari Subulussalam, Minggu.
     
Kedatangan tim BKSDA Aceh ke Kota Subulussalam untuk merespon laporan warga terkait keberadaan gajah liar di wilayah itu sejak beberapa dua bulan terakhir.
     
"Kemarin kami cek untuk merespon bagaimana karakteristik dampak dari gajah yang selama ini melintasi daerah itu," katanya.
     
Handoko mengatakan, hasil penelusuran pihaknya gajah liar yang diperkirakan berjumlah dua sampai tiga ekor itu memang sering melintas kawasan tersebut menuju ke Sultan Daulat hingga hingga ke Trumon Aceh Selatan.
     
"Setelah saya cek pergerakan gajah itu menuju ke Desa Tangga Besi terus naik ke atas dan menyisir sungai di Desa Namo Buaya. Jadi, itu memang lintasanya. Akibatnya ketiga gajah itu melintas otomatis tanaman warga dimakan dan diinjak," katanya.
    
Menurut Handoko, kawanan gajah liar itu bisa jadi gajah yang pernah berada di Sultan Daulat beberapa bulan lalu.
     
Saat itu BKSDA Aceh menurunkan tim bersama gajah jinak dari Trumon untuk menangkap hewan dilindungi tersebut, namun akibat gajah yang dibawa beda kroni (kelompok), hewan itu lebih dahulu meninggalkan lokasi sebelum tim tiba.
     
"Karena kami datangkan gajah yang bukan kroninya, gajah itu pergi. Gajah itu ada grup besar ada grup kecil jadi kalau bukan kelompoknya dia tidak mau gabung," jelas Handoko.
     
Ketika ditanya gajah liar itu berasal dari wilayah mana, Handoko mengatakan harusnya gerakan gajah itu berasal dari lembah Bengkung yang merupakan hutan tropis pegunungan di bagian utara dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil di bagian selatan.
     
Dari Bengkung gajah itu turun alam indah sungai besar yang berada di kawasan Desa Namo Buaya lalu bergerak ke Trumon dan sampai ke pantai.
     
Namun karena di Trumon di sana ada Conservation Response Unit (CRU) atau unit penanggulangan konflik gajah sehingga jalurnya terpotong. Akhinya gajah itu cuma bisa bergerak ke Trumon Timur lalu menuju ke Sultan Daulat.
     
Handoko menambahkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Sekdako Subulussalam H Damhuri terkait rencana pembangunan CRU di wilayah Sultan Daulat sehingga bisa merespon cepat apabila ada gangguan gajah liar memasuki permukiman penduduk seperti yang sudah terjadi di Desa Subulussalam Timur, Kecamatan Simpang Kiri dan di Sultan Daulat.
     
"Jadi, ketika ada gajah liar masuk bisa respon cepat," katanya.




: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026