"Fokus pengembangan tahun kedua ini melalui penelitian unggulan aplikasi lapangan pupuk hayati mikoriza pada varietas nilam Lhokseumawe, Tapak Tuan dan Sidikalang," kata Peneliti USK Banda Aceh Prof Syafruddin, di Banda Aceh, Jumat.
Selain itu, pihaknya juga mengembangkan pupuk hayati mikoriza ini pada nilam hutan atau nilam merah yang didapatkan dari hasil eksplorasi di salah satu dataran tinggi Aceh.
Prof Syafruddin menyebutkan, target akhir pengembangan nilam dengan pupuk hayati mikoriza adalah kualitas nilam organik terbaik, baik budidaya maupun dari segi kualitas minyaknya.
"Kita tetap bersumbu pada pengembangan nilam secara dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Tak hanya itu, Guru Besar USK Banda Aceh tersebut juga tengah mengembangkan mikoriza yang telah berjibaku selama 12 tahun dan banyak melahirkan inovasi dengan berbagai jenis tanaman.
Secara berkelanjutan pihaknya juga telah mengembangkan mikoriza dari genus glomus mosseae, gigaspora sp dan campuran antara keduanya.
"Pengembangan keberlanjutan tersebut dari stok strain atau starter mikoriza, dan itu tetap harus dijaga serta kita pertahankan," katanya.
Kata Prof Syafruddin, kegiatan untuk perbanyak mikoriza tak terputus tersebut dilakukan di rumah mikoriza Fakultas Pertanian USK, dilaksanakan dengan melibatkan mahasiswa strata S1, S2 hingga program doktoral.
Bukan hanya dari penelitian saja, lanjut Prof Syafruddin, pupuk hayati mikoriza yang diproduksi juga tersebut juga didesiminasi pada program pengabdian kepada masyarakat (PKM) berbasis produk untuk peningkatan tanaman nilam dan cabai di Aceh Besar.
"Berkat penelitian ini kita telah berhasil meningkatkan produksi cabai dan nilam sampai 50 persen setelah pengaplikasian pupuk hayati mikoriza," demikian Prof Syafruddin.
Pewarta: Rahmat FajriEditor : Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2026