Meulaboh (ANTARA Aceh) - Anggota DPD-RI Sudirman menilai para pengusaha di Provinsi Aceh belum siap dan mampu menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang segera dilakukan pada awal 2016.
"Salah satunya di Aceh sendiri tidak ada produk yang memiliki nilai jual yang nasional, kalaupun ada seperti komoditas kopi dan sawit, itupun sifatnya bahan baku, belum diolah menjadi sebagai bahan jadi," katanya di Meulaboh, Aceh Barat, Senin.
Pernyataan tersebut disampaikan disela-sela mengunjungi kawasan pemukiman masyarakat korban banjir di Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat yang hingga saat ini masih terisolir akibat jembatan putus diterjang banjir pertengahan Desember 20015 belum dibangun kembali.
Sudirman yang lebih akrap dikenal sebagai komedian Aceh "Haji Uma" tersebut menyampaikan, masyarakat Aceh dan Indonesia merupakan konsumtif sehingga dianggap belum mampu bersaing dengan pasar global karena berbagai keterbatasan.
Kata dia, saat menggikuti persentase terhadap pemaparan potensi-potensi Negara Asean, Pemerintah Indonesia menyampaikan keterbukaan diri dalam pertukaran ekonomi, termasuk mempromosikan berbagai objek vital yang dianggap bernilai jual dalam ekonomi Asean.
"Kita punya komoditi tapi belum bisa untuk dipasarkan langsung, sekarang ini yang diekspor juga masih dalam gelondongan, jadi umumnya di Indonesia ini masyarakat konsumtif. Semoga saja dengan dimulainya MEA ini merubah perilaku konsumtif ke produktif, kalau tidak akan tumbang pelaku usaha lokal," imbuhya.
Lebih lanjut dikatakan, Aceh sendiri memiliki kekayaan sumber daya alam cukup besar terutama disektor komoditi perkebunan seperti biji kopi, kakao, kelapa sawit, hanya saja belum ada terobosan untuk pemasaran lebih terbuka akses pasar.
Menurut dia, ekonomi kreatif dari berbagai produksi usaha kecil sampai menengah di wilayah Aceh sangat kecil, hal itu juga disebabkan oleh daya saing produk-produk hanya bersifat lokal atau dengan kata lain standarisasi produk hanya untuk konsumsi masyarakat lokal.
Selain tidak memiliki nilai tambah yang cukup signifikan, kondisi pelaku usaha mikro di Aceh umumnya bertumpu pada satu jenis mata barang, malahan cenderung usaha digeluti masyarakat bangkrut karena tidak adanya pola managemen yang baik.
"Pemerintah harusnya pihak pertama yang membeli berbagai produk kreatifitas masyarakat, kemudian mencarikan pasar. Dulu dimasa pemerintahan orde baru ada Koperasi yang demikian, kenapa sekarang tidak dirintis hal demikian," tegasnya.
"Salah satunya di Aceh sendiri tidak ada produk yang memiliki nilai jual yang nasional, kalaupun ada seperti komoditas kopi dan sawit, itupun sifatnya bahan baku, belum diolah menjadi sebagai bahan jadi," katanya di Meulaboh, Aceh Barat, Senin.
Pernyataan tersebut disampaikan disela-sela mengunjungi kawasan pemukiman masyarakat korban banjir di Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat yang hingga saat ini masih terisolir akibat jembatan putus diterjang banjir pertengahan Desember 20015 belum dibangun kembali.
Sudirman yang lebih akrap dikenal sebagai komedian Aceh "Haji Uma" tersebut menyampaikan, masyarakat Aceh dan Indonesia merupakan konsumtif sehingga dianggap belum mampu bersaing dengan pasar global karena berbagai keterbatasan.
Kata dia, saat menggikuti persentase terhadap pemaparan potensi-potensi Negara Asean, Pemerintah Indonesia menyampaikan keterbukaan diri dalam pertukaran ekonomi, termasuk mempromosikan berbagai objek vital yang dianggap bernilai jual dalam ekonomi Asean.
"Kita punya komoditi tapi belum bisa untuk dipasarkan langsung, sekarang ini yang diekspor juga masih dalam gelondongan, jadi umumnya di Indonesia ini masyarakat konsumtif. Semoga saja dengan dimulainya MEA ini merubah perilaku konsumtif ke produktif, kalau tidak akan tumbang pelaku usaha lokal," imbuhya.
Lebih lanjut dikatakan, Aceh sendiri memiliki kekayaan sumber daya alam cukup besar terutama disektor komoditi perkebunan seperti biji kopi, kakao, kelapa sawit, hanya saja belum ada terobosan untuk pemasaran lebih terbuka akses pasar.
Menurut dia, ekonomi kreatif dari berbagai produksi usaha kecil sampai menengah di wilayah Aceh sangat kecil, hal itu juga disebabkan oleh daya saing produk-produk hanya bersifat lokal atau dengan kata lain standarisasi produk hanya untuk konsumsi masyarakat lokal.
Selain tidak memiliki nilai tambah yang cukup signifikan, kondisi pelaku usaha mikro di Aceh umumnya bertumpu pada satu jenis mata barang, malahan cenderung usaha digeluti masyarakat bangkrut karena tidak adanya pola managemen yang baik.
"Pemerintah harusnya pihak pertama yang membeli berbagai produk kreatifitas masyarakat, kemudian mencarikan pasar. Dulu dimasa pemerintahan orde baru ada Koperasi yang demikian, kenapa sekarang tidak dirintis hal demikian," tegasnya.
Pewarta: Pewarta : AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.