Sabang (ANTARA Aceh) - Nelayan tradisional di Kota Sabang, Provinsi Aceh, mulai beralih memancing ikan tuna, karena pasarannya dianggap lebih menjanjikan.
Panglima Laot (lembaga adat laut) Kota Sabang, Ali Rani di Saban, Rabu mengatakan, akhir-akhir ini sudah banyak nelayan di daerah ini menangkap ikan tuna dan hasilnya cukup menggiurkan.
Katanya, hampir satu bulan lebih cuaca di perairan Sabang dan sekitarnya kurang bersahabat dan nelayan yang sudah beralih ketangkapan ikan tuna terlihat santai dan biasa saja.
"Nelayan yang sudah beralih ketangkapan ikan tuna saat cuaca buruk seperti sekarang santai saja, hal ini sebagai bukti perekonomian mereka stabil meski tidak melaut," tuturnya.
Ia juga memberikan contoh, nelayan tradisional lainnya, seperti nelayan tangkap, ikan cakalang (tongkol), bongkok (keureupoeh), pancing nunda serta pancing karang dan sejenisnya terpaksa melaut ketika cuaca buruk.
"Untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari nelayan ini ketika cuaca buruk terpaksa melaut meski di area teluk dan sekitarnya," katanya lagi.
Lebih lanjut ia menyampaikan, nelayan tradisional tersebut dominan bermodal boat thethet kapasitas mesinya 5 gross tonage (GT) dan mereka melaut sekira 2 mil dari lepas pantai.
Panglima Laot Wilayah Kecamatan Sukajaya, Saiful Bahri mengatakan, pendapatan nelayan tangkap ikan tuna jauh lebih baik dari pada nelayan tangkap biasa.
"Nelayan tangkap ikan tuna satu ekor saja cukup untuk operasional dan bobotnya rata-rata per ekor sekitar 50 Kg dijual dengan harga Rp40.000/Kg," sebut Saiful Bahri yang biasa disapa dikalangan nelayan Yah Ngoh.
Ia menambahkan, nelayan tuna biasanya melaut sekira 18 sampai 20 mil dari lepas pantai Pulau Weh dan kalau cuaca baik per boat itu bisa 2-3 ekor ikan tunanya.
"Hasil yang sudah kita data bobot ikan tuna tangkapan nelayan kita paling tinggi 75 Kg, dan yang disayangkan kita belum ada castorit atau pabrik es," tuturnya.
Selain itu ia juga mengatakan, semua ikan tuna tangkapan nelayan Sabang selama ini dijual ke Banda Aceh dan seterusnya dikirim melalui transportasi daratan ke Medan, Sumatera Utara.
"Kita berharap pemerintah serius melihat prospek dan peluang ini, dan solusinya adalah pemerintah benar-benar serius meliat peluang ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan," harapnya.
Nelayan paling ujung barat Indonesia masih menjunjung tinggi etika melaut dan mereka masih menggunakan tangkapan yang ramah lingkungan demi keberlangsungan sumber daya kelautan itu sendiri.
"Kita melarang tegas nelayan menggunakan pukat harimau atau tangkapan yang dapat merusak alam, jika ada nelayan yang melanggar kita memberikan sanksi larangan melaut sesuai dengan tingkat pelanggaran," katanya.
Pewarta: Irman Yusuf Uploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.