Kepala Kantor Wilayah DJBC Provinsi Aceh Safuadi di Banda Aceh, Selasa, mengatakan penerimaan bea keluar tersebut tumbuh positif jika dibandingkan periode yang sama pada 2022.
"Penerimaan bea keluar hingga Januari 2023 mencapai Rp4,75 miliar. Sedangkan periode yang sama pada 2022 hanya Rp900,7 juta," kata Safuadi menyebutkan.
Safuadi mengatakan jika dibandingkan penerimaan bea keluar periode Januari 2022 sebesar Rp900,7 juta, maka penerimaan bea keluar Januari 2023 tumbuh positif sebesar 428 persen.
Dan ini, kata Safuadi, menunjukkan perekonomian masyarakat di Provinsi Aceh sudah pulih dan kembali menggeliat setelah pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak dua tahun terakhir.
Safuadi mengatakan penerimaan bea keluar sepanjang Januari 2023 yang terbesar dari ekspor minyak sawit mentah atau CPO dengan nilai Rp4,38 miliar. Kemudian, minyak hasil sampingan dari proses CPO yakni palm acid oil (PAO) sebesar Rp376 juta.
Bea keluar, kata Safuadi, merupakan penerimaan dari ekspor CPO dan PAO melalui Pelabuhan Calang di Kabupaten Aceh Jaya dan Pelabuhan Krueng Geukueh di Kabupaten Aceh Utara.
Dengan penerimaan bea keluar mencapai Rp4,75 miliar di bulan pertama 2023 tersebut, Kantor Wilayah DJBC Provinsi Aceh optimis target penerimaan bea keluar pada 2023 sebesar Rp50,42 miliar tersebut terpenuhi.
"Kami terus berupaya meningkatkan penerimaan negara dari sektor bea cukai. Di antaranya mendorong ekspor minyak mentah sawit atau CPO dari Aceh serta pembentukan kawasan ekonomi khusus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," kata Safuadi.
Pewarta: M.Haris Setiady AgusEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.