Kebutuhan Biomassa

Asisten Manajer Operasi PLTU Nagan Raya Azie Anhar mengatakan mulai implementasi program cofiring biomassa sejak Desember 2021.

Pada 2022, mereka memulai dengan biomassa jenis cangkang sawit, kemudian juga cofiring menggunakan sekam padi dan sawdust pada tahun berikutnya, serta cofiring menggunakan woodchips pada 2024.

Pada tahun ini, lanjut Azie, PLTU Nagan Raya juga telah melakukan uji coba implementasi cofiring dengan menggunakan biomassa cangkang kopi.

"Untuk sejauh ini total green energi yang sudah dihasilkan dari PLTU semenjak menggunakan biomassa tersebut sekitar 31.000 MWh green," ujarnya.

Menurut Azie, program cofiring biomassa di PLTU berperan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, dan juga mendukung program net zero emission yang tengah digalakkan pemerintah.

Upaya ini juga untuk meningkatkan bauran energi baru terbarukan melalui substitusi sekitar 3-10 persen dari batu bara, tanpa memerlukan perubahan yang besar pada peralatan yang ada pada PLTU.

Ia menjabarkan saat ini kebutuhan biomassa PLTU Nagan Raya berkisar antara 100 hingga 200 metrik ton (MT) per hari.

Volume kebutuhan tahunan biomassa menunjukkan tren yang dinamis, pada tahun 2022 berkisar 10.627 ton, di tahun 2023 menurun karena fluktuasi harga cangkang sawit menjadi hanya sekitar 4.373 ton, dan kembali meningkat jadi 19.109 ton pada 2024.

Sedangkan, pada 2025, hingga April, realisasi volume biomassa telah mencapai 8.393 ton.

Azie menyebut potensi biomassa di Aceh sangat besar dan beragam, mulai dari limbah pertanian maupun limbah industri, seperti cangkang sawit, sekam padi, sawdust, dan cangkang kopi.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PLTU Nagan Raya gunakan sekam padi 500 ton/bln untuk cofiring biomassa

Pewarta: Khalis Surry
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026