Banda Aceh (ANTARA) - Deru eskavator memecah kesunyian Desa Manyang Cut di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Lengan besi alat berat itu mengeruk lumpur sisa banjir bandang yang sudah mengering dan memuatnya ke truk yang datang bergantian.
Mariati melihat dari jauh saat truk-truk besar itu melewati jalan di desanya yang kini sudah bisa diakses kendaraan bermotor. Debu beterbangan terbawa angin di bawah panas terik matahari di bulan Februari.
Perempuan berusia 51 tahun itu duduk di kursi kayu di depan rumahnya. Perabotan yang tersisa dari banjir bandang ditatanya dengan rapi di atas endapan lumpur yang sudah mengeras. Ada dua kursi kayu, meja rias, dan foto anak bersama menantunya yang tergantung di dinding.
"Rumah asli sudah terbenam lumpur 2,5 meter. Gak bisa dibersihkan lagi karena lumpurnya terlalu banyak di dalam," kata Mariati.
Baca juga: Satgas: 3.248 huntara di Aceh sudah rampung dari kebutuhan 16.294 unit
Keluarga Mariati adalah penyintas bencana Aceh yang kehilangan tempat tinggal. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), total rumah rusak akibat bencana Aceh mencapai 106.058 unit. Kerusakan rumah tersebut tersebar di 18 kabupaten dan kota, mulai dari kerusakan ringan, sedang, dan rusak berat.
Sudah lebih dua bulan berlalu sejak bencana hidrometeorologi menghantam Aceh pada akhir November 2025, tapi lumpur masih jadi masalah yang belum tuntas. Warga di daerah aliran Sungai Meureudu, Pidie Jaya, masih sulit untuk pulih karena tempat tinggal mereka bisa dikatakan masuk zona merah bencana.
Sungai Meuruedu kini makin lebar namun dangkal. Sebagian besar permukaannya sama rata dengan permukiman di daerah aliran sungai itu. Alhasil, ketika hujan turun sungai meluap lagi dan menggenangi permukiman warga.
Halaman selanjutnya: rumah tumbuh di atas lumpur
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026