Aceh Tamiang (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan pemulihan korban bencana banjir dan longsor di Aceh dan sumatera harus dimulai dari rumah.
"Rumah adalah segala-galanya bagi masyarakat, namun banyak rumah warga rusak, hancur bahkan hilang. Karena itu, proses pemulihan korban bencana sumatera harus dimulai dari rumah," kata AHY, di Aceh Tamiang, Kamis.
Pernyataan itu disampaikan AHY saat menghadiri peresmian hunian sementara (Huntara) yang dibangun Kementerian PU di lahan Kompleks Perkantoran Pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 84 unit.
Atas arahan dari Presiden Prabowo Subianto, pihaknya bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan lainnya berada di garis depan dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) pascabencana.
AHY mengaku salut dengan bahan konstruksi Huntara yang materialnya bisa bertahan 10 tahun, setelah tak diperlukan bisa dibongkar dan dipakai pada lokasi lain. Standar hunian ini, juga sudah sesuai arahan Presiden untuk iklim tropis dengan sirkulasi ventilasi udara.
Kemudian, di bawah atap dilapisi dengan aluminium foil untuk memantulkan panas matahari. Selain itu di atas atap dipasang turbin manual untuk alirkan hawa panas dari plafon.
Sementara untuk ukuran kamar 3x6 tersedia dua bed dan satu lemari serta kipas angin. Adapun luas lahan Huntara di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang itu 5.427 M2 dengan luas bangunan mencapai 12.418 meter terdiri dari tujuh blok dan berkapasitas 336 orang.
Proyek Huntara ini telah menyerap 600 orang tenaga kerja, 250 dari luar dan 250 lagi lokal. Waktu pelaksanaan pembangunan dikerjakan selama dua minggu atau 18 hari waktu pembersihan lahan.
"Di tanah kurang lebih luasnya 5.000 meter persegi, kemudian ada tujuh blok, saya mendengar setiap blok itu bisa untuk 12 keluarga, sehingga ada 84 kepala keluarga kalau dikalikan empat kurang lebih bisa menampung 336 jiwa," ujarnya.
Kementerian PU fokus pada upaya perbaikan pembangunan kembali infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan agar tidak ada lagi daerah terisolir atau sulit ditembus untuk mengantar logistik serta kebutuhan lainnya.
Selain itu, sarana dan prasarana lain juga penting seperti pendidikan, kesehatan rumah-rumah ibadah untuk menata kembali agar semua bisa beraktivitas seperti sediakala.
"Rumah itu sangat mendasar, tempat tinggal harus disiapkan walaupun sifatnya sementara tetapi mudah-mudahan jauh lebih baik dibandingkan kondisi di pengungsian," katanya.
Dalam kesempatan ini, AHY mengapresiasi kinerja Kementerian PU yang berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga lainnya dalam mendukung pemerintah membangun soliditas kemanusiaan, serta solidaritas bersama masyarakat terdampak bencana.
Secara pribadi, AHY mengaku senang karena Huntara ini bukan hanya untuk tidur lebih layak saja, tetapi juga terdapat fasilitas pendukung utama lainnya, termasuk kamar mandi atau toilet dan dapur bersama, taman ceria untuk anak-anak dan keluarga agar tidak jenuh berada dalam bilik hunian.
"Selain pulih secara fisik, juga proses healing ini sudah dimulai dari hunian, dan ini penting," tegas AHY.
Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi mengatakan untuk Huntara modular yang baru saja diresmikan Kementerian PU ini akan segera ditempati warga yang kehilangan tempat tinggal sepenuhnya akibat banjir bandang.
"Hunian sementara ini, akan dihuni oleh 84 KK yang terdiri dari 19 KK berasal dari Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru dan 65 KK dari Kampung Kota Kuala Simpang.
"Total warga yang tertampung mencapai 336 jiwa. Mereka adalah saudara-saudara kita yang rumahnya hilang disapu dahsyatnya banjir bandang," kata Armia.
Dirinya juga mengapresiasi respon cepat pemerintah pusat terhadap wilayahnya yang menjadi salah satu titik terdampak bencana paling parah di tanah rencong.
"Aceh Tamiang merupakan daerah terdampak paling parah. Sinergi lintas lembaga menjadi kunci dalam penanganan masa kritis hingga pemulihan saat ini," ujar Armia Fahmi.
Salah seorang calon penghuni Huntara Kementerian PU, warga Kampung Kota Kuala Simpang, Lela (44) merasa senang namanya masuk dalam daftar penghuni, apalagi selama ini ia mengungsi di tenda BNPB di depan pendopo Bupati Aceh Tamiang.
"Syukur kali kami dapat Huntara tidak kedinginan lagi. Selama ini saya mengungsi di pinggir jalan depan pendopo Bupati, banyak sekali debu kalau kendaraan lewat," demikian Lela.
Pewarta: Dede HarisonEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026