Banda Aceh (ANTARA) - Kalangan pelaku industri rumahan cincau di Aceh menyebutkan permintaan pasar bahan campuran minuman tersebut pada Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi menurun karena ikut terdampak bencana hidrometeorologi.

"Ramadhan tahun ini ada penurunan permintaan cincau karena ikut terdampak bencana yang terjadi akhir November 2025," kata Djoek Fa, pelaku industri rumahan cincau, di Banda Aceh, Senin.

Industri rumahan cincau Djoek Fa merupakan usaha rintisan keluarga. Djoek Fa merupakan generasi ketiga yang membuat cincau di Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh.

Baca juga: Permintaan cincau pada Ramadhan di Aceh meningkat
 

Ia menyebut penurunan permintaan hampir setengah jika dibandingkan puasa tahun lalu. Tahun lalu, penjualan bisa mencapai 800 kaleng di awal puasa per hari. Namun, kini hanya 400 kaleng per hari.

Menurut dia, berkurangnya permintaan cincau karena permintaan pasar dari sejumlah wilayah bencana di Provinsi Aceh menurun pada Ramadhan 1447 Hijriah.

"Biasanya permintaan dari Pidie, Pidie Jaya, dan daerah lainnya di pesisir pantai timur Aceh banyak. Namun, tahun ini jauh berkurang. Selain itu, daya beli masyarakat saat ini juga menurun," kata Djoek Fa.

Menyangkut harga, kata Djoek FA dijual Rp25 ribu per kaleng. Harga tidak naik sejak beberapa tahun terakhir, walau harga bahan baku naik dan kini berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

"Pasokan bahan baku didatangkan dari Pulau Jawa. Kalau dari Aceh, belum ada. Ketika bencana sempat terjadi kendala pengiriman bahan baku. Namun, kini kembali lancar. Biasanya kami memasok hingga satu ton untuk bulan puasa," kata Djoek Fa.


Baca juga: BPOM temukan cincau di pasar Lambaro Aceh Besar mengandung boraks



Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026