Sebab pedagang gadungan yang disebut cuak berinisial B alias P itu, telah tiga tahun tak berjualan lagi di Pasar Inpres
Tapaktuan (Antaranews Aceh) - Direktur Eksekutif Yayasan Gampong Hutan Lestasi (YGHL), Sarbunis meminta Pemkab Aceh Selatan agar tidak mengadu domba sesama pedagang untuk memuluskan rencana pemindahan ke Pasar Rakyat Tapaktuan.

"Pihak Disperindagkop dan UKM yang bertanggungjawab dalam pemindahan atau relokasi para pedagang, terindikasi melakukan pemaksaan kehendak dengan cara bernegosiasi dengan oknum warga yang mengaku pedagang," katanya kepada wartawan di Tapaktuan, Senin.

Akibatnya, lanjut dia, para pedagang menjadi berang, karena oknum pedagang gadungan itu menyatakan bersedia pindah dengan cara membuat pernyataan fiktif, sehingga menjadi alasan kuat bagi pihak Disperindagkop UKM, menggusur pedagang di Pasar Inpres," kata Sarbunis.

"Sebab pedagang gadungan yang disebut cuak berinisial B alias P itu, telah tiga tahun tak berjualan lagi di Pasar Inpres," tambahnya.

Aktivis LSM yang selama ini aktif mendampingi para pedagang itu mengaku, pihaknya bersama belasan pedagang lainnya, Rabu (21/3) siang telah mengadu kepada Ketua DPRK Aceh Selatan, T Zulhelmi.

"Sebab, kita khawatir dengan munculnya oknum cuak itu, bisa menimbulkan kontak fisik di antara mereka, sehingga kita harus mengantisipasi sejak dini," katanya.

Kedatangan mereka, mendapat sambutan baik dari Adun Jul, panggilan akrab ketua dewan. "Pak Ketua menyarankan kami mengadu ke Polsek, guna menghindari berbagai kemungkinan terburuk," sebut Arjuna, pedagang yang ikut beraudensi ke ketua dewan.

Sarbunis menyebutkan upaya pemindahan pedagang itu, masih sulit dilaksanakan karena kondisi pasar rakyat sama sekali tidak mendukung dan persoalan pasar itu kini masih dalam penyelidikan pihak berwajib.

Selain lokasi kiosnya sempit hanya 2,75 meter persegi, lokasi lingkungannya juga amburadul, karena proyek penataan lingkungan yang dibangun dengan dana tumpang tindih bernilai Rp2,6 miliar lebih sumber APBK dan APBA tahun 2017 diduga asal jadi.

Demikian pula fasilitas pendukung lainnya seperti terminal dan lainnya, termasuk biaya transportasi mencapai dua kali lipat dari kota ke lokasi Pasar Rakat di Batu Merah Gampong Lhok Bengkuang Timur.

Karenanya, upaya pemindahan ini semakin menjadi dilematis bagi pedagang di sana, akibat daya beli masyarakat kian rendah, setelah perekonomian dialami warga makin terpuruk.

"Saat ini saja, konsumen yang datang berbelanja ke Pasar Inpres bisa dihitung dengan jari, maka otomatis kondisi pasar jadi lengang begini," ucap Syamsul, seorang pedagang tempe.

Hal serupa disampaikan Maimunah, pedagang sayur asal Panton Luas, Tapaktuan. "Tolong bapak lihat, dagangan saya hanya sedikit terjual, karena konsumen pembeli hanya itu-itu saja orangnya," sebutnya sembari mengatakan para konsumen yang berbelanja hanya didominasi para pemilik warung, isteri pejabat dan pegawai negeri.

Pewarta: Hendrik
Editor : Heru Dwi Suryatmojo

COPYRIGHT © ANTARA 2026