Pemerintah Amerika Serikat berkomitmen untuk menyumbangkan 800.000 dosis vaksin COVID-19 tambahan untuk Indonesia melalui mekanisme global COVAX.

“Ada komitmen baru menambah vaksin 800.000 dosis melalui COVAX Facility dan dalam waktu dekat akan tiba di Indonesia,” kata Menlu Retno ketika menyampaikan pernyataan pers secara virtual tentang kegiatannya di New York, Sabtu.

Komitmen donasi vaksin tersebut akan menambah 12.665.060 dosis vaksin yang sebelumnya telah diterima Indonesia dari AS.

Pada KTT Global COVID-19 yang diselenggarakan secara virtual pada Rabu (22/9), Presiden Joe Biden mengumumkan bahwa AS akan menyumbangkan tambahan 500 juta dosis vaksin Pfizer-BioNTech.

Sumbangan itu akan dikirimkan ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di seluruh dunia mulai Januari 2022.

Komitmen tersebut mengubah jumlah total vaksin yang disumbangkan oleh AS menjadi lebih dari 1,1 miliar dosis.

Hingga saat ini, AS telah mengirimkan hampir 160 juta dosis vaksin COVID-19 ke 100 negara secara gratis dan tanpa syarat, dengan pengiriman jutaan dosis setiap harinya.

Hampir di setiap pertemuan bilateral yang dilakukan dengan para mitra Indonesia, Menlu Retno selalu membahas tentang penanganan COVID-19.

“Dan saya sampaikan positivity rate di Indonesia saat ini rata-rata di bawah 2 persen atau di bawah standar WHO sebesar 5 persen. Sebelumnya, positivity rate Indonesia sempat mencapai titik 31 persen,” kata Retno, merujuk pada Organisasi Kesehatan Dunia.

Positivity rate atau tingkat positivitas adalah persentase jumlah kasus positif dibandingkan dengan jumlah tes COVID-19 yang dilakukan.

Secara khusus, Menlu Retno meminta sejumlah negara yang masih memasukkan Indonesia dalam daftar merah (red list) COVID-19 untuk mempertimbangkan dan mengubah status tersebut.

“Satu contoh, Perancis sudah mengeluarkan Indonesia dari red list,” ujar dia.

Selain itu, Indonesia juga menyampaikan keprihatinan terhadap ketimpangan, diskriminasi, dan politisasi vaksin.

Indonesia bersepakat dengan mitra-mitranya untuk mempersempit ketimpangan vaksin dan menghentikan diskriminasi serta politisasi vaksin.

“Saya juga membahas bagaimana dunia dapat memperkuat tata kelola kesehatan global sehingga mampu mengantisipasi potensi pandemi di masa yang akan datang,” tutur Retno.

Selama dua hari terakhir pada 23-24 September, Menlu Retno melakukan pertemuan bilateral dengan 18 mitra, di antaranya dengan Komisaris Tinggi UNHCR, Sekjen Liga Arab, CEO Dewan Bisnis AS-ASEAN, Sekjen PBB, PM Belanda, Presiden Palau, Menlu Inggris, dan Utusan Khusus AS untuk Afghanistan.

Retno juga bertemu dengan para menlu dari Sri Lanka, Jepang, Mozambik, Pakistan, Serbia, Iran, Prancis, Mauritania, dan Thailand.

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani

Editor : M.Haris Setiady Agus


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2021