Meulaboh (Antaranews Aceh) - Peneliti dari Universitas Teuku Umar (UTU) Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh merekomendasikan penggunaan atraktor rumpon ijuk sebagai alat bantu penangkapan ikan karena memiliki nilai tambah secara ekonomis.

Wakil Dekan II Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UTU, Hafinuddin, SPi, MSc di Meulaboh, Kamis, mengatakan, rumpon atraktor ijuk memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan rumpon dengan atraktor menggunakan daun kelapa atau daun pinang seperti yang digunakan nelayan Aceh.

"Hal ini dikarenakan biaya pembuatan rumpon atraktor ijuk cenderung relatif lebih murah dibandingkan rumpon atraktor daun pinang atau daun kelapa. Selain itu, biaya perawatan rumpon atraktor ijuk lebih kecil dari rumpon atraktor daun pinang atau daun kelapa," jelasnya.

Magister Universiti Malaysia Terengganu ini, menjelaskan hasil penelitian yang dilakukan pada 2016 bersama Mahendra di perairan Meulaboh itu, terbukti memberikan alternatif teknologi baru dalam bidang alat bantu penangkapan ikan yaitu rumpon ijok.

Hafinuddin menyebutkan, rumpon ijuk secara garis besar sama seperti rumpon - rumpon yang digunakan nelayan, terdiri dari empat komponen yaitu, pelampung (float), tali (rope), pengumpul ikan (attractor) dan pemberat (anchor).

Hanya saja yang membedakan adalah, pada komponen inti rumpon yang telah dimodifikasi yaitu atraktor sebagai pengumpul/ pemikat ikan dengan menggunakan bahan ijuk, bukan daun kelapa atau daun pisang.

"Harapannya teknologi penangkapan rumpon ataktor ijuk dimanfaatkan nelayan, memberi dampak kepada peningkatan pendapatan dan memberi keahlian baru bagi nelayan dalam pembuatan rumpon jenis baru," sebut Magister Spesialis Teknologi Penangkapan Ikan ini.

Alat tangkap jaring insang (gill net) merupakan alat tangkap yang paling dominan digunakan nelayan di wilayah barat selatan Aceh. Nelayan biasanya menggunakan alat bantu penangkapan yaitu rumpon tetap permukaan.

Beberapa manfaat penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan yakni, meningkatkan efesiensi penangkapan, meningkatkan hasil tangkapan dan meminimumkan biaya penangkapan terutama bahan bakar minyak.

Hafinuddin yang merupakan anggota organisasi ASIAN Fisheries Society (AFS), melihat selama ini nelayan Aceh umumnya masih menggunakan rumpon yang pemikatnya dari bahan daun kelapa dan daun pinang.

"Tetapi keluhan masyarakat nelayan adalah, rumpon dari atraktor daun cepat rusak dan hanya bertahan dua bulan atau sekitar delapan minggu. Kondisi ini menyebabkan nelayan mengeluarkan biaya Rp1 juta - Rp1,5 juta untuk setiap pengantian," imbuhnya.

Melalui dana hibah program kemitraan masyarakat (PKM) dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2018, rumpon atraktor ijuk telah disosialisasikan dan diberikan kepada kelompok nelayan jaring insang di Desa Kuala Trang, Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya.

Tim pelaksana kegiatan terdiri dari Hafinuddin, SPi, MSc, Dr Edwarsyah, SP, MP, Dr Muhammad Rizal, SPi, MSi dan juga melibatkan tenaga ahli bidang kelautan yaitu Sayid Geubry Al Farisi, SIK serta dibantu oleh mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UTU Abdul Karim yang merupakan mahasiswa dari keluarga nelayan Desa Kuala Trang Kabupaten Nagan Raya.

"Dalam pembuatan rumpon ijuk sebagai percontohan saat ini hanya ada di Kabupaten Nagan Raya. Semoga kesempatan selanjutnya dapat kita sosialisasikan kepada seluruh nelayan di Aceh," katanya menambahkan.
 

Pewarta: Anwar

Uploader : Salahuddin Wahid


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2018