"Sasaran mereka yang utama sekali adalah kalangan pemuda, dengan kriteria putus sekolah dan berekonomi keluarga menegah ke bawah yang sedikit mengetahui ajaran Agama Islam," kata Ketua Komisi-B MPU Aceh Barat Ustd Chairul Azhar di Meulaboh, Jumat.
Ia mengatakan, kelompok Negara Islam Iraq dan Syam ini memiliki tiga strategi dan sasaran khusus untuk merekrut anggota, pertama menggunakan tempat peribadatan (masjid), remaja masjid (pemuda) dan lintas pendidikan.
Ustad Chairul yang juga Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Aceh Barat itu menjelaskan, remaja masjid di wilayahnya sudah diingatkan untuk selektif melihat adanya tamu yang mengunjungi tempat peribadatan.
Meski demikian, belum ada pembatasan kepada masyakat muslim yang hendak beribadat dicurigai sebagai kelompok tertentu, akan tetapi kewaspadaan dalam mendatangkan pendakwah atau orang tertentu ke daerah mungkin yang lebih ditingkatkan.
"Menyangkut tamu agama umpamanya dari luar itu tidak sampai kearah sana, namun remaja masjid itu juga sudah disosialisasikan untuk tidak terprovukasi oleh adanya rayuan bergabung dengan ISIS," tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan, seluruh unsur ulama dayah yang tergabung dalam MPU Aceh Barat sudah menggelar diskusi bersama Muspida Aceh Barat, hasil diskusi tersebut sepakat menolak kehadiran ISIS di wilayah itu.
Hasil kesepakatan penolakan terhadap ISIS ini dinukilkan dalam edaran bersama yang dibagikan kepada masyarakat melalui aparatur desa, meski masih dalam proses pembahasan di tingkat kabupaten namun tahapan sosialisasi langsung melalui ceramah agama sudah dilakukan.
Ia menyarankan, peran pemuda di desa merupakan paling ampuh menekan berkembangnya kelompok radikal ini ke Aceh, terlebih lagi pemerintah memiliki qanun atau peraturan daerah tentang fungsi aparatur gampong (desa).
"Saya rasa peran pemuda kampung sangat ampuh menjadi benteng berkembangnya ISIS di Aceh Barat, meskipun belum ada yang ditemukan tapi peluang mereka kesini sangat terbuka luas sebab Aceh mayoritas Islam," katanya menambahkan.
Editor : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.