Pasalnya, pascadaerah itu dilanda bencana banjir dan tanah longsor beberapa waktu lalu, persoalan erosi Sungai Krueng Kluet tersebut semakin parah, karena telah mengikis puluhan hektare lahan pertanian dan pemukiman penduduk termasuk badan jalan di dua desa dalam Kemukiman Menggamat itu.
"Akibat erosi sungai itu, sekitar 90 hektare lahan pertanian dan pemukiman penduduk di dua desa yakni Gampong Koto Indarung dan Siurei-Urei, Kecamatan Kluet Tengah, telah amblas. Persoalan erosi sungai itu telah berlangsung sejak sepuluh tahun lalu namun hingga kini belum teratasi," kata Mustarudin.
Dalam sepuluh tahun terakhir ini, sebutnya, sejumlah aset desa lainnya juga telah amblas ke dasar sungai, mulai dari masjid, rumah sekolah dan lapangan olah raga pemuda, akibat dikikis erosi sungai tersebut.
Diungkapkan, selain aset desa yang ludes, tanaman pertanian yang mencapai 50 ha juga ambles, mulai dari palawija, perkebunan hingga ke lahan cadangan mereka.
Dia menyatakan, pascapersoalan erosi Krueng Kluet tersebut gencar diekspose media massa serta mendapat sorotan dari anggota DPRK dalam sidang paripurna, persoalan itu telah mendapat perhatian dan respon dari Pemkab Aceh Selatan yang dibuktikan telah turunnya Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra serta beberapa pejabat terkait lainnya meninjau lokasi.
"Namun sayangnya, langkah penanganan yang telah dilakukan saat ini kami lihat hanya baru sebatas penanganan secara darurat yakni melakukan pengerukan dengan alat berat untuk memindahkan aliran sungai," ujarnya.
Menurutnya, langkah penanganan yang telah dilakukan oleh Pemkab Aceh Selatan tersebut tidak akan menyelesaikan masalah, sebab jika hujan lebat kembali turun dan wilayah itu kembali dilanda banjir maka tidak tertutup kemungkinan air sungai tersebut kembali menghantam lahan pertanian dan pemukiman penduduk.
"Satu-satunya solusi yang harus dilakukan oleh Pemerintah untuk menyelesaikan persoalan erosi itu adalah harus dibangun tanggul secara permanen di sepanjang bantaran sungai itu lebih kurang sepanjang 2 Km," cetusnya.
Mustarudin menyatakan, jika langkah penanganan secara permanen itu tidak segera dilakukan dalam waktu dekat ini, maka dikhawatirkan kedua desa yang berada di pedalaman Kecamatan Kluet Tengah yang dihuni ribuan penduduk itu, akan ambles ke sungai yang bermuara ke lautan Samudera Hindia.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan, Cut Syazalisma yang dimintai tanggapannya mengatakan, untuk saat ini langkah yang bisa diambil adalah penanganan secara darurat terlebih dahulu.
Sedangkan untuk penanganan secara permanen akan dilakukan dengan terlebih dahulu mengkaji dan menelaah yang matang serta komprehensif oleh pihak-pihak terkait.
"Untuk penanganan darurat, kami telah menerjunkan satu unit alat berat (beco) ke lokasi, untuk dilakukan pengerukan sungai yakni memindahkan aliran sungai ke lokasi lebih aman agar tidak lagi terjadi erosi," tandas Cut Syazalisma.
Editor : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.