Pelatihan yang berlangsung sehari yang diikuti 20 peserta itu dibuka oleh Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Banda Aceh Yusmadi dan dihadiri Branch Manager PT Pertamina Aceh Aribawa dan jajarannya di Banda Aceh, Rabu.
Selain membuat sulaman kasab dan tas, para peserta juga diberi motivasi oleh dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh Dr Syafruddin Chan. Pelatihan ini juga bekerjasama dengan Sentra Komunikasi (Senkom) Mitra Polri Aceh.
Yusmadi menyampaikan apresiasi yang besar terhadap Pertamina yang peduli terhadap perkembangan ekonomi kreatif di Aceh, khususnya di Kota Banda Aceh, dalam mendidik wanita membuat sulaman kasab dan kerajinan tas.
Dikatakan, perkembangan kehidupan dunia ekonomi dan bisnis saat ini telah mengalami pergeseran paradigma, yaitu dari ekonomi berbasis sumber daya ke paradigma ekonomi berbasis pengetahuan atau kreativitas.
"Semoga pelatihan menyulam yang diadakan Pertamina hari ini merupakan wujud nyata dan menjadi even yang bisa meningkatkan pengetahuan dan kepedulian kita terhadap berkembangnya ekonomi kreatif di Kota Banda Aceh. Semoga bisa memberikan dampak positif dan membantu para pengrajin dimasa yang akan datang," katanya.
Sementara itu, Aribawa menyampaikan, Pertamina sebagai perusahaan tidak hanya mencari keuntungan semata, namun ada tanggungjawab untuk ikut membantu mengembangkan ekonomi kreatif di daerah ini, yakni melalui pelatihan menyulam kasab bagi para wanita.
Dikatakan, pelatihan ini tidak berhenti pada hari ini, tapi akan terus berlanjut, sehingga diharapkan para peserta bisa mengembangkan terus menjadi home industri yang diandalkan untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Pertamina sengaja melakukan pelatihan sulaman kasab, karena produk tradisional Aceh itu mulai hilang, sehingga perlu dibangkitkan kembali.
Disebutkan, sulaman kasab merupakan hasil kerajinan tradisonal Aceh yang harus dilestarikan. "Jangan sampai sulaman kasab ini diambil negara luar, seperti batik yang kini sudah ada di Tiongkok, Malaysia, dan Jepang.
"Kita berharap, sulaman kasab ini menjadi ikon Aceh, sehingga pelestariannya perlu dijaga melalui berbagai program pelatihan," kata Aribawa.
Editor : Antara Aceh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.